Satu geneh, atau kalau di Indonesia 100 rupiah. Uang dengan nilai kecil tapi bisa menghantui saya sepanjang malam. Kenapa?
Pada waktu itu saya biasa berbelanja buah dan sayuran di suuq sabi' (pasar) dekat imarah kami. Pada suatu hari saya pergi ke suuq untuk membeli buah, sayur dan lainnya. setelah memilih apa yang saya butuhkan saya pun meletakkan plastik yang berisi buah dan sayur ke alat timbangan untuk dihitung. setelah dihitung, total semuanya 21 geneh, saya mengeluarkan uang 50 geneh dari tas kecil saya dan saya berikan ke ammunya.
"dih, lausamaht"
ammunya mengambil sambil membuka laci penyimpanan uang untuk dikembalikan 29 geneh lagi kepada saya, kemudian kembali menutup laci dan memberikan sisa uang kembalian yang diletakkan dimeja sambil mengatakan "alayya geneh kamn, ta'udi gadan"
"eih?" aku kebingngan
"alayya geneh kaman" ia mengulangi lagi sambil mengisyaratkan angka satu pakai telunjuk tangan kananya.
"eih? astagfirullah"
"kenapa gk diikhlasin aja sih" pintaku dalam hati
Astagfirullah, mukaku datar, aku harus kembali lagi kesini besok hanya untuk mengembalikan uang satu geneh miliknya. Aku mengambil barang dan langsung pulang membawa barang belanjaanku.
...
Pernah disuatu hari saya belanja ditempat suuq yang sama utnuk membeli sayur dan buah, namun tidak ada uang kembalian akhirnya lagi dan lagi uang 2 geneh milik ammunya harus dikembalikan besok hari, karena tidak mau lagi kembali ke suuq saya langsung mencari fakkah di baalah dekat suuq. Setelah itu ku berikan kepada ammu penjaga suuqnya, ia tertawa karena ia tahu aku dari tadi mencari uang fakkah.
Kejadian seperti ini tidak hanya sekali, jadi kalau mau belanja harus siapkan uang fakkah.
...
Kemudian ada lagi cerita masalah satu geneh ketika aku pergi ke Alexandria, malam di alexandria aku dan temanku pergi keluar untuk menikmati indahnya suasana malam di Alexandria, kami memasuki sebuah toko yang menjual peralatan mandi untuk membeli sikat badan milik temanku, ketika membayar temanku menyuruh untuk pakai uang ku dulu karena ia tidak punya uang kecil, sikat badan tersebut dengan harga 11 le dan saya memberikan uang 20 le kembalian 9 le, kemudian ammunya memberikan 10 le, kemudian ia katakan "besok kembali lagi untuk mengembaikan satu geneh uang ammunya yang ziyadah", what? Kami harus ke alexandria hanya untuk mengembalikan uang satu geneh milik ammu? Yang benar saja ammu
Saya langsung menjawab "Musy mumkin ya amm, nahnu min qahira la nuud kaman ila haza makan ya amm."
Aku langsung mencari cari uang satu geneh di tas, berharap ada sisa uang satu geneh untuk mengembalikan uang miliknya.
Uang satu genah sangat berarti bukan? tentu, kalau ada hutang satu geneh yang belum dilunasi tentu akan diazab oleh Allah nanti di akhirat, apalagi ketika kita meninggal yang pertama kali diselesaikan ialah hutang si mayyat, bagaimana jika aku meninggal terus belum bayar uang satu geneh tentu ya pasti akan diminta pertangggng jawaban nanti sama Allah. Makanya pas aku lagi ada hutang ni 1 geneh atau lebih sma ammu-ammu di baalah atau suuq, pasti ku kabarkan ke teman sebelum tidur "kalau ana meninggal, tolong kasih uang satu geneh ke ammu ba'alah atau suuq dekat rumah ya." teman saya spontan ketawa hahahaha
.
oiya, kali ini ketika saya beli sesuatu dan uang saya kurang saya langsung bilang ke penjualnya "ikhlas tamam", kemudian penjualnya tertwa sambi mengatakan "ikhlas ikhlas" hahha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar