Pendidikan adalah topik yang paling penting, karena pendidikan adalah unsur utama yang menjadikan seseorang berkarakter. Sebelum kita masuk ke inti pembahasan, pendidikan itu apa sih? Seberapa penting pendidikan bagi wanita?
Pendidikan adalah suatu proses pembelajaran mengenai pengetahuan dan keterampilan yang bisa dilakukan dimana saja. Pendidikan memang tidak sebatas pada bangku sekolah, melainkan bisa direalisasikan di mana saja baik itu pendidikan formal atau non formal. Pendidikan adalah hak semua orang mulai dari yang usia dini sampai lanjut usia. Tapi, pada kenyataannya masih banyak yang mengabaikan arti penting dari pendidikan itu sendiri, menganggap pendidikan hanya jembatan untuk mendapatkan kerja dan jabatan. Sehingga jika tidak dapat menjamin karir sukses ke depannya, lantas buat apa berpendidikan?
Banyak orang yang tidak berpendidikan tapi bisa menjadi milioner, dan tidak sedikit juga orang yang berpendidikan pada akhirnya hanya menjadi guru honor di sekolah negeri. Apalagi tahun lalu ada berita yang menggemparkan warga media sosial tentang lulusan S1 yang kalah dengan lulusan SMA dalam hal melamar kerja. Nah, jadi berpendidikan buat apa dong?
Berpendidikan bukan hanya secarik kertas ijazah yang kita dapatkan, itu hanya sebuah tanda bahwa kita pernah belajar di universitas tersebut dengan tingkatan sarjana misalnya.
“Ijazah adalah tanda bahwa Anda pernah bersekolah/berkuliah bukan tanda pernah berpikir.”-Rocky Gerung-
Tentu benar, pendidikan memang tidak menjamin seseorang akan mendapatkan kerja sesuai dengan passion-nya, tidak menjamin orang bisa kaya raya. But, mari kita lihat bagaimana Ki Hajar Dewantara, seorang bapak pendidikan memaknai konsep pendidikan itu sendiri. Menurut Ki Haji Dewantara, tujuan pendidikan adalah untuk memerdekakan manusia. Nah,“Bagaimana manusia merdeka itu?. Menurut Ki Haji Dewantara, ada dua poin penting manusia dinamakan merdeka; Pertama, selamat raganya. Kedua, bahagia jiwanya. (survive and happy).
Mari kita fikirkan, apa sih yang kita cari selama ini? Tentu hanya untuk mendapatkan kebahagian bukan?. Mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat butuh ilmu atau tidak? Tentu butuh banget! betul? Ya, untuk sukses butuh namanya ilmu, tidak mungkin sukses kalau kita tidak tahu ilmunya.
Kemudian Ki Hajar mengatakan, tujuan pendidikan itu punya tiga peran penting dalam kehidupan manusia:
1. Pendidikan itu untuk memajukan dan menjaga diri,
2. Pendidikan itu untuk memelihara dan menjaga bangsa,
3. Pendidikan itu untuk memelihara dan menjaga dunia.
Beliau percaya bahwa pendidikan itu bisa berdampak pada lingkungan dan bangsa, saling terhubung satu dengan yang lainnya. Misalnya, ketika kita berhasil menjadikan diri kita bahagia, tentu lingkungan sekitar kita juga akan berdampak menjadi orang yang bahagia, ketika suatu lingkungan bahagia, tentu daerahnya menjadi maju bukan? Nah, begitulah dampak dari pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Semakin banyak orang yang mendapatkan kebahagiaan dari pendidikan tentu akan semakin baik bangsa ini.
“Memerdekakan satu orang adalah langkah awal memerdekakan satu keluarga, memerdekakan keluarga adalah langkah awal untuk memerdekakan daerah, memerdekakan daerah adalah langkah awal untuk memerdekakan bangsa.”
-Ki Hajar Dewantara-
Tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia dari segala kebodohan. Tapi, apakah wanita juga perlu berpendidikan? Toh, pada akhirnya wanita juga akan menjadi ibu rumah tangga. Sayang dong kalau ijazahnya tidak digunakan. Capek-capek berpendidikan yang hanya menghabiskan tenaga, uang tapi pada akhirnya jadi ibu rumah tangga.
Kata-kata ini yang selalu menjadikan wanita berpikir dua kali untuk berpendidikan. Tidak sedikit yang termakan dengan omongan tersebut dan akhirnya cara berpikirnya pun keliru. Padahal pendidikan poin nomor satu yang tidak boleh disepelekan oleh wanita, ya walaupun nanti ujung-ujungnya ke dapur juga. Ada juga sebagian wanita takut berpendidikan karena akan sulit mendapatkan jodoh, makin tinggi pendidikan seorang wanita makin sulit juga mendapatkan jodoh.
Apalagi ada beberapa lelaki yang tidak menyukai wanita berpendidikan karena takut merasa tersaingi. Tidak ingin istrinya lebih pintar dibandingkan dirinya. Memilih menjadi wanita berpendidikan bukan berati kita ingin menyaingi diri dengan para lelaki, tapi karena itu hak nomor satu agar bisa mengatur kehidupan dengan lebih baik. Dengan menjadi wanita cerdas kita bisa mengetahui mana yang baik dan buruk untuk diri dan lingkungan kita, ketika ada suatu permasalahan, kita tidak langsung terbawa emosi dan menyalahkan orang lain, tidak mudah di adu domba, tidak mudah terjerat kepada hal-hal yang tidak penting. Ketika menjadi wanita cerdas kita tahu mana yang bermanfaat dilakukan mana yang tidak, bisa mengambil keputusan yang tepat dan mampu berpikir kritis.
Ada tiga hal mengapa wanita perlu pendidikan:
1. Wanita kelak akan menjadi ibu, ia akan menjadi penegak dan pengajar pertama dalam keluarga,
2. Wanita adalah tiang negara, jika wanita baik negara juga akan baik, begitu juga sebaliknya,
3. Prestasi tertinggi wanita adalah ketika mampu menciptakan anak-anaknya menjadi orang yang bermoral, sholeh dan sholehah.
Menjadi ibu rumah tangga bukan hanya sekedar pintar membersihkan rumah, mengepel, mencuci pakaian menyapu, tapi juga pintar dalam mendidik, membesarkan, dan memberikan teladan yang baik. Dengan berpendidikan tinggi seorang wanita akan mudah membantu suaminya menyelesaikan permasalahan dalam rumah tangga maupun permasalahan di luar. Bisa memberikan solusi secara rasional karena dengan pendidikan yang baik akan membentuk cara berpikir dan kemampuan seorang wanita dalam melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Tidak ada pilihan memilih menjadi ibu rumah tangga atau berkarir. Ibu rumah tangga juga bisa menjadi wanita berpendidikan, ibu rumah tangga juga bisa menjadi wanita karir dan berkarya.
Penelitian juga menunjukkan bahwa kecerdasan diperoleh dari ibu, kalau seseorang berpikir logis karena ibunya juga berpikir logis, ibunya berpikir logis karena neneknya berpikir logis. Jadi, kalau ada laki-laki yang cerdas itu karena ibunya juga cerdas. Menurut penelitian, secerdas apa pun laki-laki tidak akan bisa mewariskan kecerdasannya kepada anaknya, justru sebaliknya kecerdasan ditentukan oleh gen wanita.
Nah, Jika ada wanita yang tidak mau berpendidikan tinggi karena tidak ada yang mau menerima, karena lelaki tersebut tidak setara dengan kamu. Coba lihat baik-baik lelaki yang sukses, siapa wanita yang ada di sampingnya? yang mendukungnya? Tentu bukan wanita sembarangan. Pasti dibalik itu ada wanita yang tangguh, cerdas, mampu menentukan mana yang baik dan buruk untuk masa depan keluarganya. Sebagai wanita, tentu kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk mengenal lelaki yang sama sekali tidak tertarik dalam dunia pendidikan dan tidak ingin kita bertumbuh.
“I am not worried about intimidating men. The type of man who will be itimidated by me is exactly the type of man I have no interest in”
“Aku tidak takut menyaingi lelaki. Lelaki yang merasa tersaingi denganku tentu bukan tipeku”
Mari kita melihat bagaimana Islam mengatur tentang pendidikan bagi wanita.
Dalam Islam, kedudukan wanita sangat penting dalam membangun bangsa yang bermartabat, Islam datang untuk memuliakan wanita dari kehinaan, kejahatan. Namun, dalam budaya dan adat istiadat yang telah melekat di sebagian masyarakat masih memandang bahwa wanita bukanlah hal yang penting dalam pembangunan bangsa. Perempuan sering kali dijadikan sebagai objek pemuas nafsu laki-laki. Wanita tidak memiliki hak apa pun, baik di dalam dunia pendidikan, warisan dan lainnya. Budaya setempat memberikan batasan kepada wanita untuk tidak perlu mengasah kemampuan diri dengan berpendidikan. Wanita mungkin hanya cukup berpendidikan setingkat SD-SMA saja karena pada akhirnya tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang wanita kecuali menjadi ibu rumah tangga.
Islam mengubah nasib perempuan menjadi kelompok paling beruntung. Islam memanusiakan perempuan seperti layaknya laki-laki. Semua janji tentang pahala dan dosa tidak dibeda-bedakan bagi keduanya. Keduanya sama-sama bertanggung jawab sebagai khalifah di bumi, dan sama-sama berpotensi menjadi hamba idola yang Muttaqin. Dalam Islam, menuntut ilmu adalah suatu keharusan baik itu bagi laki-laki dan perempuan, bahkan Islam tidak melarang dan membatasi perempuan untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya.
Khadijah binti Khuwailid, Ra.
Sayyidah Khadijah Ra., istri pertama Rasulullah, Saw yang paling beliau cintai dan sangat berjasa bagi umat muslim. Beliau adalah wanita cerdas yang lahir dari keluarga yang sangat dihormati. Ayahnya yang sangat mementingkan pendidikan sehingga Sayyidah Khadijah, Ra. tumbuh menjadi wanita sukses pada zamannya. Beliau dikenal dengan wanita yang berilmu, memiliki akhlak yang baik, dan disegani oleh para laki-laki pada masa itu. Beliau dikenal dengan pengusaha wanita yang jujur, baik, kaya, dan dermawan.
Aisyah binti Abu Bakar, Ra.
Sayyidah Aisyah Ra., istri Rasulullah Saw adalah seorang wanita yang sangat cerdas, memiliki ingatan yang sangat kuat bahkan beliau bisa menghafal segala perkataan Rasulullah Saw tanpa ada kekurangan sedikit pun. Bahkan kecerdasannya menandingi laki-laki. Sayyidah Aisyah, Ra. menjadi tempat bertanya para sahabat dan ulama pada masa itu, karena Rasulullah Saw menyerukan kepada para sahabat untuk mengambil sebagian ilmu dari Sayyidah Aisyah, r.a. Sebagaimana sabda Rasulullah, Saw:
خذ نصف دينكم من هذه الحميراء
“Ambillah separuh agama kalian dari Sayyidah Aisyah, Ra.”
Dari semua Ummahatul Mu’minin, Sayyidah Aisyah lah yang paling banyak meriwayatkan hadis, dan mendapatkan posisi ke empat. Tercatat 2210 hadis yang beliau riwayatkan. Tidak hanya itu, yang membedakan Sayyidah Aisyah, Ra. dengan para sahabat lelaki Rasulullah Saw yang lain karena ketelitian, daya pemahaman beliau yang sangat tinggi, dan kemampuan dalam berijtihad. Beliau juga ahli di bidang kedokteran, syair dan fikih. Mari kita melihat perempuan-perempuan yang menjadi inspirasi bagi kita di Era Kontemporer:
Aisyah binti Syathi Ad-Dumyathi
Seorang mufasir perempuan pertama di era kontemporer dan menjadi rujukan para perempuan dalam dunia tafsir. Seorang wanita asal Dumyat, Mesir yang lahir pada tahun 1913 M dan wafat pada tahun 1998 M. Bintu Syathi nama samarannya, yang berarti gadis tepi sungai atau pantai, mengacu pada desa Dumyat, tempat air sungai Nil dan laut Mediterania bertemu. Di usia 6 tahun beliau sudah menghafal 15 juz Al-Quran, beliau hidup dalam lingkungan budaya patriarki yaitu budaya yang menempatkan lelaki lebih tinggi dari perempuan dalam segala aspek kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi. Ayahya seorang tokoh agama yang cenderung konservatif dan sempat melarang anaknya untuk belajar di sekolah formal karena berdasarkan QS. Al-Ahzab:33 yang melarang wanita keluar rumah dan berhias.
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu...” (QS. Al-Ahzab: 33)
Namun, karena bujukan ibunda dan kakeknya akhirnya beliau diizinkan untuk bersekolah di sekolah formal dengan syarat tertentu. Aisyah binti Syathi berkata:
“Kitab pertama yang menjadi perhatianku adalah Al-Quran, itulah inspirasi terbesar yang mendorongku mencintai ilmu dan semangat belajar mengalir dalam darahku. Ayahku seorang alim, dia yang menanamkan kecintaan pada ilmu. Tapi, ia juga yang menghalangi jalanku, maka aku tabrak haluannya dan aku yang berhak menang.”
Beliau juga menjadi perempuan Mesir ketiga yang berkuliah pada saat itu. Beliau tumbuh menjadi wanita Arab modern, rasional, berwawasan luas, berbudaya, dan berkomitmen pada nilai-nilai Islam. Tumbuh rasa kecintaan beliau pada dunia tulis-menulis sejak di sekolah menengah, karena kakeknya sering meminta beliau untuk menulis kritikan terhadap pemerintah tentang pengelolaan sungai Nil yang penuh limbah, sehingga mengancam kelestarian sungai dan keselamatan nelayan.
Ketika beranjak menjadi mahasiswi, beliau menulis beberapa majalah perempuan Mesir dan menjadi penulis tetap harian terbesar di Mesir, Al-Ahram. Beliau menyelesaikan pendidikannya mulai dari sarjana sampai gelar profesor dan menjadi guru besar di beberapa negara seperti Universitas Qarawiyyin, Maroko, dan menjadi pembicara di berbagai forum seperti Suriah, Arab Saudi, Irak, Kuwait dan beberapa negara lainnya. Pada tahun 1942 beliau menerbitkan sebuah novel yang berjudul Master of the Estate yang menceritakan tentang seorang gadis petani korban budaya patriarki. Beli sudah menulis lebih dari 40 buku, ratusan artikel, cerita pendek, dan esai. Beberapa judul buku beliau yang telah ditulis, seperti: Will a Women Become A Syaikh in Al-Azhar?, The Image of Women in Our Literature, The lost Women dan lainnya.
Beliau menikah dengan seorang dosennya sendiri dan mendedikasikan diri dalam mengembangkan ilmu bersama-sama. Beliau menulis tafsir dan ilmu-ilmu Al-Quran dan dikenal dengan mufasir wanita abad modern pada masa itu.
Nah, inilah beberapa wanita inspiratif yang bisa kita jadikan teladan agar bisa terus belajar dan meningkatkan kualitas diri. Ladies, jadi wanita hebat tidak bisa didapatkan dengan tidur sambil scrool instagram, youtube, dan media sosial lainnya, masih bermanfaat kalau yang di-sroll hal-hal yang bisa meningkatkan kualitas diri. Saya teringat dengan nasehat Azhar beliau berpesan yang artinya:
“Wahai anak-anakku, belajarlah dengan sungguh-sungguh karena kalian (wanita) akan mendidik umat Islam. Ilmu tidak didapatkan dengan bersantai-santai”. Saat itu, saya merasa sangat terpukul dengan nasehat beliau. Kalau terus-terusan kita disibukkan dengan hal-hal yang tidak penting, bagaimana nasib umat ke depannya?.
لا يستطيع العلم براحة الجسم
“Ilmu itu tidak didapatkan hanya dengan santai-santai”
Ladies, ilmu itu nomor satu, dengan ilmu kita bisa benar dalam beribadah, bermuamalah, dan bisa menjadi cahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Belajar apa pun yang kamu inginkan, tingkatkan kualitas dirimu dengan ilmu pengetahuan, belajar di mana saja dan dengan siapa saja, dan belajar itu tidak ada batas waktu dan umur. Menjadi seorang penuntut ilmu sejati adalah warisan para nabi. Dari zaman Nabi Adam As sampai Nabi Muhammad Saw hanya mewariskan ilmu, bukan harta.
“Sejatinya Akhlak kepada Allah berupa timbulnya rasa takut kepada Allah Swt adalah karena sebab ilmu yang ada pada diri manusia itu sendiri” -Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari-
Tapi, jangan lupa isi ilmu dengan akhlak, karena jika ilmu tanpa akhlak ibaratnya seperti kapas yang ditiup angin. Ilmu menjadikan kita pribadi yang rendah hati, ilmu menjadikan kita lebih bisa menghargai orang lain, ilmu menjadikan kita bisa memanusiakan manusia, kalau ilmu kita belum sampai ke tahap itu, mari kita belajar lagi dan terus belajar sampai akhir darah penghabisan.
“Pendidikan memang menentukan cara seseorang memandang dan merespons sesuatu. Selagi ada kesempatan, didik dirimu sebaik mungkin agar kamu paham kursi tempat dudukmu. Tapi, jangan lupa, mengisi nurani. Sebab yang berpendidikan tinggi tanpa nurani, sering menyalahgunakan kesempatan di kursi yang mereka duduki.”
- Boy Candra -
Dunia pada beberapa tahun yang akan datang akan semakin sulit, untuk menciptakan generasi yang baik tidak bisa dengan mengandalkan kecantikan dan tubuh indah semata. Perlu wanita-wanita yang cerdas, pendidik moral anak bangsa lebih baik lagi ke depannya dan itu harus dimulai dengan wanita-wanita generasi saat ini yang menempatkan bahwa pendidikan itu nomor satu dari yang lainnya. Terus belajar karena belajar adalah ibadah.
Saya sendiri sebagai wanita lebih tertarik dengan wanita yang cerdas, cerdas tentu dengan makna yang luas, cerdas adalah dia yang bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Bisa mengendalikan emosi dan terus mengasah dirinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Wanita cerdas lebih terlihat menarik, elegan, terlihat lebih memesona dibandingkan wanita yang hanya mengurusi soal kecantikannya. Mengurusi masalah kecantikan memang sangat perlu, karena wanita diciptakan menyukai keindahan dan cantik dengan kodratnya. Namun, kecantikan jika tidak diiringi dengan otak yang cerdas, tidak ada apa-apanya. Wanita cerdas tentu tidak mau jika mau didefinisikan kecantikan dengan standar orang lain, seperti cantik itu harus putih, mata bening, tinggi, tubuh langsing. Wanita cerdas melihat, ia cantik karena mensyukuri dan menjaga apa yang telah Allah ciptakan untuknya, dan menerima dirinya apa adanya dengan penuh kepercayaan diri.