Senin, 28 September 2020

Renungan

           



        Pada suatu hari, malam datang begitu pekat, bintang-bintang tenggelam di balik awan. Padahal, waktu itu aku baru pulang dari sebuah perjalanan di sepanjang malam musim dingin yang mencekam. Bahkan, rembulan pun kala itu tak ingin memancarkan cahayanya yang seharusnya dapat menyinari langkah-langkahku dan bergembira atas kedatanganku! Aku terus berjalan tanpa ku tahu bahwa aku sedang menuju ke Timur atau ke Barat. Lalu aku bertanya dalam hatiku, “Dimana gerangan pohon kurma yang menjulang tinggi bagaikan kompas yang menunjukkan arah bagiku?” Pertanyaan itu menghilang tanpa sempat ku peroleh jawabannya. Kebingunganku persis seperti pohon kurma yang kehilangan ranting-rantingnya dalam kepungan malam.

            Aku menahan nafas di sela desau angin yang seolah-olah memukul-mukul telingku. Tiba-tiba aku menabrak sesosok angin yang berdiri diujung jalan. Diantara dingin yang menggigil dan semilir angin malam aku merasakan darah mengalir dari kedua tanganku. Ternyata aku telah menabrak pohon kurma yang begitu kukenal dan membuat tanganku terluka. Aneh, pohon kurma yang kemarin memberiku petunjuk, kini melukaiku.

            Kemudian seolah jiwaku bertanya pada diriku sendiri, “Tahukah kamu rahasia apa di balik kejadian ini?” Karena bulan yang semestinya bersinar telah pergi maka sinar pula petunjuk-petunjuk lainnya. Hanya kegelapan yang menyelimuti, hingga akhirnya suasana menjadi kacau balau.

            Aku berbisik pada jiwaku, “Inilah gambaran agama dalam kehidupan manusia.”

          Ketika keimanan telah menetap dalam hati seorang manusia., maka cahaya iman akan menyertainya dan sepanjang perjalanan hidupnya, bak cahaya terang yang memancar dari sela-sela jemarinya dan dari belakangnya, menerangi langkah-langkahnya hingga ia bisa mengetahui dengan pasti dimana harus menjejakkan kakinya dan karenanya kakinya tidak akan pernah tergelincir. Langkah-langkahnya terlihat harmoni dengan gerakan seluruh anggota tubuhnya, sampai sampai tak mungkin terjadi tabrakan, dan akhirnya sampai ketujuan yang jelas dan benar.

Sabtu, 26 September 2020

Hikayat tentang Ahmad Ibn Abdul Hawari


            Telah dikisahkan dari Ahmad ibn Abdul Hawari r.a bahwa beliau berkata: “Pada suatu hari aku keluar rumah untuk menuju kuburan. Tiba-tiba aku teringat akan kematian dan malapetaka yang akan menimpa diriku. Setelah itu aku melihat ada seorang pemuda berada dikuburan hanya terdiam. Rupanya dia sedang menangis dan merasa takut. Maka aku bertanya kepadanya: “Dari mana asalmu wahai pemuda?” Dia menjawab: “Dari tempat dimana orang-orang muncul.” Aku berkata:”Apa yang kamu katakan kepada orang-orang yang ada di dalam kubur?” Dia menjawab: “Aku berkata kepada mereka: Kapan kalian pergi? Ternyata mereka menjawab: “Kami akan pergi menunggu sampai kalian datang.”

            Kemudian dia berpaling dariku sambil menangis. Aku terus mengikutinya seraya berkata: “Kamu mau pergi kemana?.” Dia menjawab: “Aku hendak mencari kehidupan.” Aku bertanya: “Bagaimana Kamu mencari kehidupanmu di antara kuburan?” Dia berkata: “Menurutmu, kehidupan itu seperti apa? Apakah kehidupan menurutmu adalah harta benda, anak keturunan dan yang serupa dengan hal itu, yang berupa kenikmatan, wanita dan anak-anak?” Dia kembali berpaling dariku sambil berkata: “Sayang sekali jika mencari kehidupan yang malah mengakibatkan kesedihan, penyesalan dan kerugian.” Aku berkata kepadanya: “Jika menurutmu, bagaimanakah kehidupan itu?” Dia menjawab: “Yang dimaksud dengan kehidupan menurutku adalah mengikrarkan tentang ketauhidan Allah Swt, berdiri untuk menghadap Allah Swt, tunduk dihadapan-Nya dan menikmati nikmatnya bermunajat kepada-Nya. Dengan itulah karunia Allah dan kebiasaan baik berdesak-desakan untuk datang kepadamu.”

Kemudian aku bertanya kepadanya: “Coba beritahukan kepadaku, bagaimana orang yang benar-benar jujur mencintai Allah? Dan kapan orang seperti itu rindu untuk bertemu dengan-Nya?” Pemuda itu menjawab: “Orang yang benar-benar mencintai Allah dengan sebenar-benarnya ialah jika Dia telah mencabut rasa cinta kepada dunia dari hatinya dan mempertahankan kekekalan Allah di antara semua makhluk-Nya. Pada waktu itulah dia akan merasa rindu untuk bertemu dangan Allah.” Aku berkata: “Coba kabarkan kepadaku, bagaimana puncak kezuhudan seseorang terhadap dunia?” Dia menjawab: “Dia meninggalkan hal-hal yang halal (yang berlebihan) sehingga tidak terjerumus pada sesuatu yang haram.”

Aku berkata: “Coba kabarkan kepadaku, bagaimana sebenarnya yang dimaksud dengan puncak ridha kepada Allah Swt?” Dia menjawab: “Apabila kamu ridha terhadap segala sesuatu yang telah ditakdirkan dan ditetapkan oleh Allah Swt. Kamu juga rela terhadap apa yang dia putuskan dan semua yang telah lalu. Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Memberi keutamaan kepada orang-orang yang bertakwa dan merendahkan orang-orang yang Dia kehendaki.” Aku berkata: “Kabarkan kepadaku, tentang puncak ibadah?” Dia menjawab: “Kamu menjadikan berbagai macam kesedihan hanya menjadi satu macam kesedihan saja. Sampai akhirnya tidak ada bedanya bagimu antara ketika kamu makmur dan ketika kamu kekurangan. Dengan demikian kamu akan merasa takut kepada Allah Swt seakan-akan kamu benar-benar menyaksikan-Nya. Jika kamu tidak seperti melihat-Nya, maka seakan-akan Dia mengawasimu.”

Aku berkata kepadanya: “Bagaimana caranya agar bisa selamat dari bermusuhan dengan manusia?” Dia menjawab: “Sebenarnya umat manusia itu adalah dua orang yang satu berakal dan satunya bodoh. Orang yang berakal sehat sibuk mengurusi aib dirinya sendiri. Dia berdiri untuk mengerjakan shalat tahajjud menghadap Tuhannya. Orang itu tidak melihat aib orang lain. Sedangkan orang bodoh sama sekali tidak memperdulikan bagaimana keadaan dan kondisi dirinya. Oleh karena itulah kamu harus merasa seperti berada di padang sahara dan seperti makan makanan tanpa lauk serta berserah diri kepada Dzat Yang Maha Esa.” Aku berkata: “Jika demikian, dari mana kita mendapatkan bahan makanan?” Dia menjawab: “Kamu bisa lari kepada Allah, sebab ia telah membuka pintu   tawakal untuk mu. Karena Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang.” Kemudian pemuda itu berjabat tangan denganku, meninggalkan dan mendo’akan aku. Aku tidak pernah melihat seseorang yang hatinya lebih bercahaya dibanding dengannya.

            Wahai hamba-hamba Allah, kasihanilah diri kalian sebelum azab dan siksaan tiba. Sesungguhnya kuburan itu tidak mengasihani orang yang tidak memiliki perbuatan baik, tidak berbelas kasihan kepada orang yang terkecoh dan suka berangan-angan. Bahkan kuburan juga tidak bersimpati pada orang yang menyiakan-nyiakan hari-harinya.  

 

Semoga bermanfaat…

With Love

Dhira Majid

 

Sumber: Ibnu Jauzi, Bustan al-Wa’idzin wa Riyadh al-Sami’in, Ter. Wawan Djunaedi Soffandi, S. Ag, (Cendekia Sentra Muslim: Jakarta, 2004), hlm. 374-376.

 


Selasa, 22 September 2020

10 CARA YANG HARUS KAMU LAKUKAN UNTUK MENUMBUHKAN SEMANGAT MENGERJAKAN SKRIPSI

 

                


                Skripsi merupakan salah satu problematika yang dialami oleh mahasiwa tingkat akhir yang ingin mendapatkan gelar sarjana. Banyak cerita-cerita lucu mahasiswa tentang skripsi yang tidak bisa dilupakan. Mulai dari konsultasi skripsi, revisi yang berulang-ulang, gonta-ganti judul sampai kawan-kawan yang lain sudah wisuda, bahkan ada yang sampai DO karena skripsinya tidak kelar-kelar. Ini merupakan beberapa problem yang tentu pernah dialami oleh para mahasiswa tingkat akhir. Tidak jarang juga ada yang menyuruh orang lain untuk menulis skripsinya agar terhindar dari problem tersebut. Namun, menyuruh orang lain untuk mengerjakan skripsi bukanlah cara yang tepat untuk memdapatkan gelar sarjana. Kamu adalah mahasiswa yang smart dan mandiri, tentu kamu harus mengerjakan skripsi dengan usaha sendiri yang nantinya akan memberikan kebanggaan tersendiri karena telah menyelesaikannya, walaupun masih sangat jauh dari kesempurnaan.

    Namun, hal tersebut bukanlah suatu masalah yang rumit. Semua bisa diselesaikan dengan tepat jika kamu bisa dengan mudah membuang rasa malas yang ada pada dirimu. Skripsi itu tidak susah, yang susah ialah melawan rasa malas itu sendiri. Kamu tidak bisa menyelesaikan skripsi jika kamu tidak buang jauh-jauh rasa malas itu, Rasa malas stadium akhir yang bahkan membuka laptop saja sangat susah, belum lagi mengerjakannya, dan kamu hanya tidur atau bermain game, atau membuka sosial media yang sama sekali tidak penting.  Revisi yang berkali-kali juga membuat kamu tidak semangat lagi dalam mengerjakannya, namun kamu harus sabar menjalani proses ini untuk meraih gelar sarjana. Nah, kali ini saya ingin berbagi beberapa cara untuk membangkitkan kembali semangat dalam mengerjakan skripsi, dan cara ini sudah saya terapkan sendiri ketika saya masih menjadi mahasiswa, berikut caranya:

1.      Buat List Target

      


Nah, cara pertama yang harus kamu lakukan ialah menulis target. Cara ini merupakan cara yang paling powerfull dalam meningkatan semangat kamu mengerjakan skripsi. Dengan adanya target maka apa yang harus kamu persiapkan pun jelas. Buatlah target waktu kapan kamu harus menyelesaikan skripsi. Dimulai dengan menulis target jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Tulislah hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menyelesaikan skripsi tersebut. Tulislah target itu pada kertas kosong dengan tulisan yang lumayan besar jika dilihat dari jauh, dan tempelkan di meje belajar, di dinding kamar tidur atau ditempat-tempat yang memang kamu sering menjelajahinya. Jangan lupa untuk mencontrengnya apabila kamu sudah menyelesaikannya. Hal ini akan memicu kamu untuk semangat kambali menulis skripsi karena diantara list target yang belum kamu selesaikan ialah skripsi sedngkan target-target yang lain sudah kamu selesaikan.

2.      Buatlah Pengingat


Nah, setelah kamu membuat list target. Hal yang harus kamu lakukan selanjutnya ialah menjadwalkannya pada smartphonmu secara rinci. Kamu bisa menjadwalkannya sendiri berapa kali dalam sehari kamu harus menulis skripsimu, dan jangan lupa memberikan jeda. Misalnya dalam satu waktu kamu harus fokus menulis skripsi selama 30 menit, 15 menit berikutnya kamu harus memberi waktu luang untuk beristirahat. Dalam waktu 15 menit ini kamu bebas melakukan apa saja. Cara ini merupakan salah satu cara yang wajib kamu lakukan, karena kegiatan menulis skripsimu telah terset di smartphonmu sehingga kamu tidak terus lalai dengan kesibukanmu yang tidak ada manfaatnya. 

3.      Bersiap-siap di pagi hari



Bersiap-siap di pagi hari adalah cara yang wajib kamu lakukan untuk semangat kembali dalam menulis skripsi. Pagi-pagi setelah melakukan ritual ibadah dan lain-lain, kamu tidak boleh tidur lagi untuk melanjutkan mimpimu. Hal yang harus kamu lakukan adalah bangun untuk mewujudkan mimpimu. Mulanya kamu harus bangun pagi, mandi, beres-beres dan menggunakan pakaian yang bagus seakan-akan kamu ingin ke kampus untuk belajar. Walaupun nanti teman-temanmu pasti akan bertanya “Kamu mau kemana?”. Jawab saja “Mau mengerjakan skripsi”. Heheh. Kemudian pergi dan menuju tempat yang nyaman seperti pustaka dll. Hal ini merupakan salah satu hal yang harus kamu lakukan karena pagi hari energy positif masih terkumpul dalam diri dan sekitarmu.  

4.      Olahraga



Olahraga jarang sekali dilakukan oleh mahasiswa, mereka lebih baik tidur sambil main hp dari pada berolahraga. Padahal manfaat dalam berolahraga sangat banyak dan merupakan salah satu kegiatan yang akan membawa dampak positif dimasa sekarang dan yang akan datang. Kamu juga wajib melistkan kegiatan olahraga dalam kegiatan harianmu. Minimal 10 menit perhari, hal ini akan membuat pikiranmu lebih refresh lagi dan tentu membugarkan tubuhmu. Sehingga kamu bisa semangat lagi dan menemukan ide-ide baru saat mengerjakan skripsi.

    5.      Sering Berkomunikasi Dengan Orang Tua atau Keluarga


   Kamu tahu gak sih cara ini sangat ampuh untuk mengembalikan semangatmu dalam menyelesaikan skripsi. Bahkan ini adalah salah satu cara ampuh yang harus kamu lakukan. Sering-serinlah menelpon orang tua atau keluargamu untuk menanyakan kabar mereka dan berkonsultasi dengan mereka tentang skripsimu walaupun orang tua tidak paham mengenai skripsi mu. Namun, hal ini akan menumbuhkan semangat kembali dalam mengerjakan skripsi karena kamu akan teringat kembali perjuangan mereka menyekolahkanmu dan menunggu akan gelar sarjanamu dan menghadiri wisudamu.

   6.      Tentukan Tempat yang Nyaman


                Nah, dalam pemilihan tempat untuk membuat skripsi merupakan salah satu hal wajib yang harus kamu perhatikan, karena tempat juga bisa berpengaruh terhadap semnagatmu. Pilihlah tempat yang menurutmu nyaman untuk mengerjakan skripsi. Jika dalam masalah ini tentu kamu lebih mengetahuinya dari karakter pribadimu.

                    7.      Mengajak Teman-Teman Untuk Mengerjakan Skripsi Bersama


            Nah, biasanya nih mahasiwa tingkat akhir pasti sibuk dengan tugasnya masing-masing dan sudah jarang berjumpa dengan teman-temannya sekampus. Berbeda dengan tugas kelompok yang dikerjakan bersama. Nah, pasti menanggung beban sendiri tentu tidak enakkan. Oleh karena itu ketika menulis skripsi ajak teman-teman mu yang lain untuk mengerjakan skripsi bersama. Hal ini akan membuat masalah mu tarasa lebih ringan dan meningkatkan kembali semngatmu.

                    8.      Hilangkan Sifat Perfeksionis

    
            Sifat perfeksionis adalah salah satu sifat yang wajib dijauhi ketika kamu ingin mengerjakan apapun, terutama dalam mengerjakan skripsi. Sifat ini akan menghancurkan semangatmu dan juga skripsimu, lihat saja jika kamu ingin terus menyempurnakan skripsi mu dengan sesempurna mungkin tentunya skripsimu tidak akan kelar-kelar hingga akhirnya kamu tidak semangat lagi mengerjakannya karena  terlalu ingin sempurna. Dear, sifat ini harus kamu tinggalkan dan kerjakan sesuai kemampuanmu, kamu hanya harus berusaha untuk memberikan yang terbaik, bukan mengharapkan kesempurnaaan dalam penulisannmu karena itu akan membuatmu tidak semangat. So, sifat ini harus kamu buang jauh-jauh dan tetap memberikan yang terbaik sesuai kesanggupanmu.

                    9.      Pilih Teman



            Ini nih hal yang sangat berpengaruh semangatmu dalam mengerjakan skripsi. Jika kamu ingin semangatmu bangkit saat mngerjakan skripsi kamu harus memilih teman yang bisa menyemangatimu. Kamu juga harus kurangi duduk dengan teman-teman yang tidak memberikan manfaat kepadamu. Kamu harus bisa tahan-tahan diri saat melihat teman mu tidur pulas, main hp dan menontot setiap malamnya. Kamu harus bisa menjadi pribadi yang tahu akan tujuan mu dan pencapaian apa saja yang harus kamu capai. Karena hal ini akan menjadi hal buruk dimasa yang akan datang dan kamu tentu akan menyesal saat orang lain sudah selesai skripi, eh kamu masih tidur enak-enakan hehheh.

                    10.  Sering Konsultasi dengan Pembimbing



            Cara yang terakhir untuk meningkatkan semngatmu ialah sering-sering berkonsultasi dengan pembimbingmu. Saat kamu sedang berkonsultasi tentang skripsimu coba sesekali alihkan sedikit pembicaraan ke cerita pengalaman dosen saat mngerjakan skripsi, tanyakan rintangan yang dihadapinya saat mengerjakan skripsi dan juga tanyakan bagaimana hasil setelah tugas tersebut terlaksnakan. Tentu ada cerita yang menarik hatimu dan menjadi sebuah pelajaran yang berharga untuk kamu ambil dimasa ketika kamu mengerjakan skripsi. 

               Nah, inilah 10 cara dari saya yang bisa saya bagikan ke teman-teman atau adik-adik yang sedang mengerjakan tugas akhir. Terus berdoa dan berusaha, dan selalu ingat bahwa Allah Swt akan menolong hamba-hamba-Nya yang berusaha. Selalu keep Posif Thingking agar kamu mendapatkan hasil yang maksimal. Fighting!!!!!!

 

 

With Love

 

Dhira Majid ❤

Selasa, 08 September 2020

HUJAN ADALAH RAHMAT ALLAH KEPADA SELURUH MAKHLUK-NYA

           


            Ketika kita mendengar kata rahmat tentu yang kita pahami adalah bentuk kasih sayang yang ditunjukkan oleh sang pemberi rahmat kepada orang yang dirahmati. Sifat ini dapat disandingkan kepada Allah dan juga makhluk-Nya. Apabila sifat rahmat disandingkan kepada Allah maka bermakna kasih sayang dan kebaikan semata. Sedangkan jika disandingkan kepada manusia maknanya ialah kasih sayang seperti sifat lemah lembut kepada yang dikasihani. Pada kesempatan ini kita akan membahas salah satu bentuk kasih sayang dan kebaikan Allah yang diberikan kepada makhluk-Nya. Apakah Allah tetap memberikan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya yang durhaka?. Apa bentuk rahmat yang Allah berikan kepada makhluk-Nya yang durhaka tersebut?. Pada pembahasan ini, para ulama telah menafsirkan salah satu dari beberapa ayat yang berbicara tentang ayat rahmah dalam QS. Al-A’raf [7]: 57, Allah Swt berfirman:

uqèdur Ï%©!$# ã@Åöãƒ yx»tƒÌh9$# #MŽô³ç šú÷üt ôytƒ ¾ÏmÏGuH÷qu ( #Ó¨Lym !#sŒÎ) ôM¯=s%r& $\$ysy Zw$s)ÏO çm»oYø)ß 7$s#t6Ï9 ;MÍh¨B $uZø9tRr'sù ÏmÎ uä!$yJø9$# $oYô_t÷zr'sù ¾ÏmÎ `ÏB Èe@ä. ÏNºtyJ¨V9$# 4 šÏ9ºxx. ßl̍øƒéU 4tAöqyJø9$# öNä3ª=yès9 šcr㍞2xs?  

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.[1]

Munāsabah (Kolerasi)

Setelah Allah menjelaskan betapa dekat rahmat-Nya kepada kaum muhsinin (orang-orang yang berbuat baik) pada ayat sebelumnya. Kemudian pada ayat yang menjadi topik pembahasan ini Allah menjelaskan tentang rahmat-Nya yang menyeluruh dan menyentuh semua makhluk-Nya termasuk hamba-hamba-Nya yang durhaka.

Penafsiran Mufasir

Ayat di atas merupakan salah satu ayat pelajaran dan dalil tentang adanya hari kebangkitan. Allah memberikan pemahaman kepada manusia bahwa Allah Swt yang Allah mengembalikan orang-orang yang telah mati kemudian hidup kembali pada hari kiamat, sebagaimana Allah menghidupkan bumi dan menumbuhkan tanaman setelah mati dengan air hujan.[2] Pada ayat di atas Allah memulai dengan menjelaskan bagaimana proses diturunkannya rahmat Allah kepada seluruh makhluk-Nya. Awalnya rahmat Allah hadir dari partikel angin yang sedikit demi sedikit bertemu dengan partikel awan kemudian menjadi satu.[3] Lalu Allah menurunkannya di tempat yang gersang agar tanah yang semula mati menjadi subur. Dengan rahmat tersebut pula Allah menumbuhkan berbagai macam tanaman dari bumi.[4]

Pada ayat ini juga Allah menyinggung rahmat berupa hujan yang menjadi sumber kehidupan di dunia. Allah menurunkan hujan bagi mereka yang sangat membutuhkannya, Dia menjadikan keberadaan rahmat tersebut menyeluruh bagi segenap penghuni wilayah dan penjuru yang terhujani tersebut. Qatadah mengatakan, diriwayatkan kepada kami bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Umar bin Al-Khatab, “Wahai Amirul Mukminin, hujan tidak turun dan orang-orang telah berputus asa.” Maka umar berkata kepadanya, “Kalian akan diberi hujan.”[5]

Kalimat (رَحْمَتِهِ) rahmatihi pada ayat ini dipahami oleh sebagian ulama bermakna hujan. Huruf (الها) ha’ pada kalimat tersebut menunjukkan kata ganti orang ketiga (هَوَ) huwa yaitu Allah Swt.[6] Hal ini untuk menunjukkan bahwa rahmah tersebut berasal dari Allah Swt semata. Lafaẓ (رَحْمة)  rahmah pada ayat di atas dipahami oleh sementara ulama dengan makna hujan. Penggunaaan kata (الرِيَاه) al-riyāh dalam bentuk jamak selalu disertai dengan penyebutan rahmat.[7] Hal ini untuk menunjukkan bahwa angin tersebut ialah angin yang membawa rahmat. Sedangkan apabila menggunakan kata tunggal maka maksudnya ialah angin yang membawa bencana.[8]

Jika dirujuk dalam beberapa kitab tafsir seperti dalam Tafsir fī Zhilalil Quran, Sayyid Quthub memahami bahwa konteks ayat ini berbicara tentang proses turunnya hujan sebagai salah satu rahmat Allah kepada seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Allah meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira akan datangnya rahmat Allah. Angin bertiup sesuai dengan hukum alam yang telah diciptakan Allah pada alam semesta ini.[9] Setiap angin bertiup akan membawa awan, maka setiap itu air hujan turun dari awan.[10]

Allah menurunkan rahmat-Nya berupa hujan kepada seluruh hamba-Nya tanpa terkucuali apakah hamba tersebut beriman atau kafir. Bagaimana Allah menyayangi hamba-hambanya padahal mereka kufur atas nikmat Allah yang tidak terhitung. Namun mengapa kebanyakan manusia tidak berfikir?

 



[1] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, (Jakarta: CV. Naladana, 2004), hlm. 157.

[2] Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, Jilid 1, Terjemahan Muhtadi, dkk., (Depok: Gema insani, 2012), hlm. 588.

[3] Saba Zaidi Abrori, Konsep Hujan dalam Alquran dan Relevansinya dalam Pelestarian Lingkungan, (Skripsi Ushuluddin Adab dan Dakwah, IAIN Ponorogo, 2019), hlm. 58.

[4] Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, Jilid 1, hlm. 588.

[5] Abdul Fida’ Imaduddin Isma’il bin Umar bin Katsīr Al-Quraisyi, Tafsir Ibnu Katsīr, Jilid 9, hlm. 175.

[6] Mahmud Shafi, Al-Jadwalu fī ‘Irab Alquran wa Sharfihi wa Bayānihi, (Bairut: Dar Al-Rasyid, 1415 H), hlm. 435.

[7] Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, Jilid 1, hlm. 588.

[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jilid 9, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 491.

[9] Tafsir fī Zhilalil Quran, Terjemahan As’ad Yasin, Abdul Aziz Salim Basyrahil, Muchotob Hamzah, Jilid 1,  (Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm. 326.

[10] Sayyid Quthub, Tafsir fī Zhilalil Quran, hlm.  326.

MUSLIM MUST HAVE A TRIP

Siapa sih yang tidak suka travelling alias jalan-jalan. Kebanyakan orang suka travelling bahkan sudah menjadi sebuah gaya hidup yang sedang ...