Selasa, 08 September 2020

HUJAN ADALAH RAHMAT ALLAH KEPADA SELURUH MAKHLUK-NYA

           


            Ketika kita mendengar kata rahmat tentu yang kita pahami adalah bentuk kasih sayang yang ditunjukkan oleh sang pemberi rahmat kepada orang yang dirahmati. Sifat ini dapat disandingkan kepada Allah dan juga makhluk-Nya. Apabila sifat rahmat disandingkan kepada Allah maka bermakna kasih sayang dan kebaikan semata. Sedangkan jika disandingkan kepada manusia maknanya ialah kasih sayang seperti sifat lemah lembut kepada yang dikasihani. Pada kesempatan ini kita akan membahas salah satu bentuk kasih sayang dan kebaikan Allah yang diberikan kepada makhluk-Nya. Apakah Allah tetap memberikan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya yang durhaka?. Apa bentuk rahmat yang Allah berikan kepada makhluk-Nya yang durhaka tersebut?. Pada pembahasan ini, para ulama telah menafsirkan salah satu dari beberapa ayat yang berbicara tentang ayat rahmah dalam QS. Al-A’raf [7]: 57, Allah Swt berfirman:

uqèdur Ï%©!$# ã@Åöãƒ yx»tƒÌh9$# #MŽô³ç šú÷üt ôytƒ ¾ÏmÏGuH÷qu ( #Ó¨Lym !#sŒÎ) ôM¯=s%r& $\$ysy Zw$s)ÏO çm»oYø)ß 7$s#t6Ï9 ;MÍh¨B $uZø9tRr'sù ÏmÎ uä!$yJø9$# $oYô_t÷zr'sù ¾ÏmÎ `ÏB Èe@ä. ÏNºtyJ¨V9$# 4 šÏ9ºxx. ßl̍øƒéU 4tAöqyJø9$# öNä3ª=yès9 šcr㍞2xs?  

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.[1]

Munāsabah (Kolerasi)

Setelah Allah menjelaskan betapa dekat rahmat-Nya kepada kaum muhsinin (orang-orang yang berbuat baik) pada ayat sebelumnya. Kemudian pada ayat yang menjadi topik pembahasan ini Allah menjelaskan tentang rahmat-Nya yang menyeluruh dan menyentuh semua makhluk-Nya termasuk hamba-hamba-Nya yang durhaka.

Penafsiran Mufasir

Ayat di atas merupakan salah satu ayat pelajaran dan dalil tentang adanya hari kebangkitan. Allah memberikan pemahaman kepada manusia bahwa Allah Swt yang Allah mengembalikan orang-orang yang telah mati kemudian hidup kembali pada hari kiamat, sebagaimana Allah menghidupkan bumi dan menumbuhkan tanaman setelah mati dengan air hujan.[2] Pada ayat di atas Allah memulai dengan menjelaskan bagaimana proses diturunkannya rahmat Allah kepada seluruh makhluk-Nya. Awalnya rahmat Allah hadir dari partikel angin yang sedikit demi sedikit bertemu dengan partikel awan kemudian menjadi satu.[3] Lalu Allah menurunkannya di tempat yang gersang agar tanah yang semula mati menjadi subur. Dengan rahmat tersebut pula Allah menumbuhkan berbagai macam tanaman dari bumi.[4]

Pada ayat ini juga Allah menyinggung rahmat berupa hujan yang menjadi sumber kehidupan di dunia. Allah menurunkan hujan bagi mereka yang sangat membutuhkannya, Dia menjadikan keberadaan rahmat tersebut menyeluruh bagi segenap penghuni wilayah dan penjuru yang terhujani tersebut. Qatadah mengatakan, diriwayatkan kepada kami bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Umar bin Al-Khatab, “Wahai Amirul Mukminin, hujan tidak turun dan orang-orang telah berputus asa.” Maka umar berkata kepadanya, “Kalian akan diberi hujan.”[5]

Kalimat (رَحْمَتِهِ) rahmatihi pada ayat ini dipahami oleh sebagian ulama bermakna hujan. Huruf (الها) ha’ pada kalimat tersebut menunjukkan kata ganti orang ketiga (هَوَ) huwa yaitu Allah Swt.[6] Hal ini untuk menunjukkan bahwa rahmah tersebut berasal dari Allah Swt semata. Lafaẓ (رَحْمة)  rahmah pada ayat di atas dipahami oleh sementara ulama dengan makna hujan. Penggunaaan kata (الرِيَاه) al-riyāh dalam bentuk jamak selalu disertai dengan penyebutan rahmat.[7] Hal ini untuk menunjukkan bahwa angin tersebut ialah angin yang membawa rahmat. Sedangkan apabila menggunakan kata tunggal maka maksudnya ialah angin yang membawa bencana.[8]

Jika dirujuk dalam beberapa kitab tafsir seperti dalam Tafsir fī Zhilalil Quran, Sayyid Quthub memahami bahwa konteks ayat ini berbicara tentang proses turunnya hujan sebagai salah satu rahmat Allah kepada seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Allah meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira akan datangnya rahmat Allah. Angin bertiup sesuai dengan hukum alam yang telah diciptakan Allah pada alam semesta ini.[9] Setiap angin bertiup akan membawa awan, maka setiap itu air hujan turun dari awan.[10]

Allah menurunkan rahmat-Nya berupa hujan kepada seluruh hamba-Nya tanpa terkucuali apakah hamba tersebut beriman atau kafir. Bagaimana Allah menyayangi hamba-hambanya padahal mereka kufur atas nikmat Allah yang tidak terhitung. Namun mengapa kebanyakan manusia tidak berfikir?

 



[1] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, (Jakarta: CV. Naladana, 2004), hlm. 157.

[2] Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, Jilid 1, Terjemahan Muhtadi, dkk., (Depok: Gema insani, 2012), hlm. 588.

[3] Saba Zaidi Abrori, Konsep Hujan dalam Alquran dan Relevansinya dalam Pelestarian Lingkungan, (Skripsi Ushuluddin Adab dan Dakwah, IAIN Ponorogo, 2019), hlm. 58.

[4] Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, Jilid 1, hlm. 588.

[5] Abdul Fida’ Imaduddin Isma’il bin Umar bin Katsīr Al-Quraisyi, Tafsir Ibnu Katsīr, Jilid 9, hlm. 175.

[6] Mahmud Shafi, Al-Jadwalu fī ‘Irab Alquran wa Sharfihi wa Bayānihi, (Bairut: Dar Al-Rasyid, 1415 H), hlm. 435.

[7] Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, Jilid 1, hlm. 588.

[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jilid 9, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 491.

[9] Tafsir fī Zhilalil Quran, Terjemahan As’ad Yasin, Abdul Aziz Salim Basyrahil, Muchotob Hamzah, Jilid 1,  (Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm. 326.

[10] Sayyid Quthub, Tafsir fī Zhilalil Quran, hlm.  326.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MUSLIM MUST HAVE A TRIP

Siapa sih yang tidak suka travelling alias jalan-jalan. Kebanyakan orang suka travelling bahkan sudah menjadi sebuah gaya hidup yang sedang ...