Ketika kita mendengar kata rahmat tentu yang kita pahami adalah bentuk kasih sayang yang ditunjukkan oleh sang pemberi rahmat kepada orang yang dirahmati. Sifat ini dapat disandingkan kepada Allah dan juga makhluk-Nya. Apabila sifat rahmat disandingkan kepada Allah maka bermakna kasih sayang dan kebaikan semata. Sedangkan jika disandingkan kepada manusia maknanya ialah kasih sayang seperti sifat lemah lembut kepada yang dikasihani. Pada kesempatan ini kita akan membahas salah satu bentuk kasih sayang dan kebaikan Allah yang diberikan kepada makhluk-Nya. Apakah Allah tetap memberikan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya yang durhaka?. Apa bentuk rahmat yang Allah berikan kepada makhluk-Nya yang durhaka tersebut?. Pada pembahasan ini, para ulama telah menafsirkan salah satu dari beberapa ayat yang berbicara tentang ayat rahmah dalam QS. Al-A’raf [7]: 57, Allah Swt berfirman:
uqèdur Ï%©!$# ã@Åöã yx»tÌh9$# #Mô³ç
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira
sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan
mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di
daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam
buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan
kamu mengambil pelajaran.[1]
Munāsabah (Kolerasi)
Setelah Allah menjelaskan betapa dekat rahmat-Nya kepada kaum muhsinin
(orang-orang yang berbuat baik) pada ayat sebelumnya. Kemudian pada ayat yang menjadi
topik pembahasan ini Allah menjelaskan tentang rahmat-Nya yang menyeluruh dan
menyentuh semua makhluk-Nya termasuk hamba-hamba-Nya yang durhaka.
Penafsiran Mufasir
Ayat di atas merupakan salah satu ayat pelajaran dan dalil tentang
adanya hari kebangkitan. Allah memberikan pemahaman kepada manusia bahwa Allah
Swt yang Allah mengembalikan orang-orang yang telah mati kemudian hidup kembali
pada hari kiamat, sebagaimana Allah menghidupkan bumi dan menumbuhkan tanaman
setelah mati dengan air hujan.[2]
Pada ayat di atas Allah memulai dengan menjelaskan bagaimana proses
diturunkannya rahmat Allah kepada seluruh makhluk-Nya. Awalnya rahmat Allah
hadir dari partikel angin yang sedikit demi sedikit bertemu dengan partikel
awan kemudian menjadi satu.[3]
Lalu Allah menurunkannya di tempat yang gersang agar tanah yang semula mati
menjadi subur. Dengan rahmat tersebut pula Allah menumbuhkan berbagai macam
tanaman dari bumi.[4]
Pada ayat ini juga Allah menyinggung rahmat berupa hujan yang
menjadi sumber kehidupan di dunia. Allah menurunkan hujan bagi mereka yang
sangat membutuhkannya, Dia menjadikan keberadaan rahmat tersebut menyeluruh
bagi segenap penghuni wilayah dan penjuru yang terhujani tersebut. Qatadah
mengatakan, diriwayatkan kepada kami bahwasanya seorang laki-laki berkata
kepada Umar bin Al-Khatab, “Wahai Amirul Mukminin, hujan tidak turun dan
orang-orang telah berputus asa.” Maka umar berkata kepadanya, “Kalian akan
diberi hujan.”[5]
Kalimat (رَحْمَتِهِ) rahmatihi pada ayat ini dipahami oleh sebagian
ulama bermakna hujan. Huruf (الها) ha’ pada kalimat tersebut menunjukkan kata ganti
orang ketiga (هَوَ) huwa yaitu
Allah Swt.[6]
Hal ini untuk menunjukkan bahwa rahmah tersebut berasal dari Allah Swt
semata. Lafaẓ
(رَحْمة) rahmah pada ayat di atas
dipahami oleh sementara ulama dengan makna hujan. Penggunaaan kata (الرِيَاه) al-riyāh
dalam bentuk jamak selalu disertai dengan penyebutan rahmat.[7]
Hal ini untuk menunjukkan bahwa angin tersebut ialah angin yang membawa rahmat.
Sedangkan apabila menggunakan kata tunggal maka maksudnya ialah angin yang
membawa bencana.[8]
Jika dirujuk dalam beberapa kitab tafsir seperti dalam Tafsir fī
Zhilalil Quran, Sayyid Quthub memahami bahwa konteks ayat ini berbicara
tentang proses turunnya hujan sebagai salah satu rahmat Allah kepada seluruh
makhluk-Nya tanpa terkecuali. Allah meniupkan angin sebagai pembawa kabar
gembira akan datangnya rahmat Allah. Angin bertiup sesuai dengan hukum alam
yang telah diciptakan Allah pada alam semesta ini.[9]
Setiap angin bertiup akan membawa awan, maka setiap itu air hujan turun dari
awan.[10]
Allah menurunkan rahmat-Nya berupa hujan kepada seluruh hamba-Nya
tanpa terkucuali apakah hamba tersebut beriman atau kafir. Bagaimana Allah
menyayangi hamba-hambanya padahal mereka kufur atas nikmat Allah yang tidak
terhitung. Namun mengapa kebanyakan manusia tidak berfikir?
[1] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, (Jakarta: CV. Naladana, 2004), hlm. 157.
[2] Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, Jilid 1, Terjemahan Muhtadi, dkk., (Depok: Gema insani, 2012), hlm. 588.
[3] Saba Zaidi
Abrori, Konsep Hujan dalam Alquran dan Relevansinya dalam Pelestarian
Lingkungan, (Skripsi Ushuluddin Adab dan Dakwah, IAIN
Ponorogo, 2019), hlm. 58.
[4] Wahbah
Al-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, Jilid 1, hlm. 588.
[5] Abdul Fida’ Imaduddin
Isma’il bin Umar bin Katsīr Al-Quraisyi, Tafsir Ibnu Katsīr, Jilid 9,
hlm. 175.
[6] Mahmud Shafi, Al-Jadwalu fī ‘Irab Alquran wa Sharfihi wa Bayānihi, (Bairut: Dar Al-Rasyid, 1415 H), hlm. 435.
[7] Wahbah
Al-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, Jilid 1, hlm. 588.
[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jilid 9, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 491.
[9] Tafsir fī Zhilalil Quran, Terjemahan As’ad Yasin, Abdul Aziz Salim Basyrahil, Muchotob Hamzah, Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm. 326.
[10] Sayyid Quthub,
Tafsir fī Zhilalil Quran, hlm.
326.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar