Senin, 28 September 2020

Renungan

           



        Pada suatu hari, malam datang begitu pekat, bintang-bintang tenggelam di balik awan. Padahal, waktu itu aku baru pulang dari sebuah perjalanan di sepanjang malam musim dingin yang mencekam. Bahkan, rembulan pun kala itu tak ingin memancarkan cahayanya yang seharusnya dapat menyinari langkah-langkahku dan bergembira atas kedatanganku! Aku terus berjalan tanpa ku tahu bahwa aku sedang menuju ke Timur atau ke Barat. Lalu aku bertanya dalam hatiku, “Dimana gerangan pohon kurma yang menjulang tinggi bagaikan kompas yang menunjukkan arah bagiku?” Pertanyaan itu menghilang tanpa sempat ku peroleh jawabannya. Kebingunganku persis seperti pohon kurma yang kehilangan ranting-rantingnya dalam kepungan malam.

            Aku menahan nafas di sela desau angin yang seolah-olah memukul-mukul telingku. Tiba-tiba aku menabrak sesosok angin yang berdiri diujung jalan. Diantara dingin yang menggigil dan semilir angin malam aku merasakan darah mengalir dari kedua tanganku. Ternyata aku telah menabrak pohon kurma yang begitu kukenal dan membuat tanganku terluka. Aneh, pohon kurma yang kemarin memberiku petunjuk, kini melukaiku.

            Kemudian seolah jiwaku bertanya pada diriku sendiri, “Tahukah kamu rahasia apa di balik kejadian ini?” Karena bulan yang semestinya bersinar telah pergi maka sinar pula petunjuk-petunjuk lainnya. Hanya kegelapan yang menyelimuti, hingga akhirnya suasana menjadi kacau balau.

            Aku berbisik pada jiwaku, “Inilah gambaran agama dalam kehidupan manusia.”

          Ketika keimanan telah menetap dalam hati seorang manusia., maka cahaya iman akan menyertainya dan sepanjang perjalanan hidupnya, bak cahaya terang yang memancar dari sela-sela jemarinya dan dari belakangnya, menerangi langkah-langkahnya hingga ia bisa mengetahui dengan pasti dimana harus menjejakkan kakinya dan karenanya kakinya tidak akan pernah tergelincir. Langkah-langkahnya terlihat harmoni dengan gerakan seluruh anggota tubuhnya, sampai sampai tak mungkin terjadi tabrakan, dan akhirnya sampai ketujuan yang jelas dan benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MUSLIM MUST HAVE A TRIP

Siapa sih yang tidak suka travelling alias jalan-jalan. Kebanyakan orang suka travelling bahkan sudah menjadi sebuah gaya hidup yang sedang ...