Pada suatu hari, malam datang begitu pekat, bintang-bintang tenggelam di balik awan. Padahal, waktu itu aku baru pulang dari sebuah perjalanan di sepanjang malam musim dingin yang mencekam. Bahkan, rembulan pun kala itu tak ingin memancarkan cahayanya yang seharusnya dapat menyinari langkah-langkahku dan bergembira atas kedatanganku! Aku terus berjalan tanpa ku tahu bahwa aku sedang menuju ke Timur atau ke Barat. Lalu aku bertanya dalam hatiku, “Dimana gerangan pohon kurma yang menjulang tinggi bagaikan kompas yang menunjukkan arah bagiku?” Pertanyaan itu menghilang tanpa sempat ku peroleh jawabannya. Kebingunganku persis seperti pohon kurma yang kehilangan ranting-rantingnya dalam kepungan malam.
Aku
menahan nafas di sela desau angin yang seolah-olah memukul-mukul telingku.
Tiba-tiba aku menabrak sesosok angin yang berdiri diujung jalan. Diantara
dingin yang menggigil dan semilir angin malam aku merasakan darah mengalir dari
kedua tanganku. Ternyata aku telah menabrak pohon kurma yang begitu kukenal dan
membuat tanganku terluka. Aneh, pohon kurma yang kemarin memberiku petunjuk,
kini melukaiku.
Kemudian
seolah jiwaku bertanya pada diriku sendiri, “Tahukah kamu rahasia apa di balik
kejadian ini?” Karena bulan yang semestinya bersinar telah pergi maka sinar
pula petunjuk-petunjuk lainnya. Hanya kegelapan yang menyelimuti, hingga
akhirnya suasana menjadi kacau balau.
Aku
berbisik pada jiwaku, “Inilah gambaran agama dalam kehidupan manusia.”
Ketika
keimanan telah menetap dalam hati seorang manusia., maka cahaya iman akan
menyertainya dan sepanjang perjalanan hidupnya, bak cahaya terang yang memancar
dari sela-sela jemarinya dan dari belakangnya, menerangi langkah-langkahnya
hingga ia bisa mengetahui dengan pasti dimana harus menjejakkan kakinya dan
karenanya kakinya tidak akan pernah tergelincir. Langkah-langkahnya terlihat
harmoni dengan gerakan seluruh anggota tubuhnya, sampai sampai tak mungkin
terjadi tabrakan, dan akhirnya sampai ketujuan yang jelas dan benar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar