Sabtu, 26 September 2020

Hikayat tentang Ahmad Ibn Abdul Hawari


            Telah dikisahkan dari Ahmad ibn Abdul Hawari r.a bahwa beliau berkata: “Pada suatu hari aku keluar rumah untuk menuju kuburan. Tiba-tiba aku teringat akan kematian dan malapetaka yang akan menimpa diriku. Setelah itu aku melihat ada seorang pemuda berada dikuburan hanya terdiam. Rupanya dia sedang menangis dan merasa takut. Maka aku bertanya kepadanya: “Dari mana asalmu wahai pemuda?” Dia menjawab: “Dari tempat dimana orang-orang muncul.” Aku berkata:”Apa yang kamu katakan kepada orang-orang yang ada di dalam kubur?” Dia menjawab: “Aku berkata kepada mereka: Kapan kalian pergi? Ternyata mereka menjawab: “Kami akan pergi menunggu sampai kalian datang.”

            Kemudian dia berpaling dariku sambil menangis. Aku terus mengikutinya seraya berkata: “Kamu mau pergi kemana?.” Dia menjawab: “Aku hendak mencari kehidupan.” Aku bertanya: “Bagaimana Kamu mencari kehidupanmu di antara kuburan?” Dia berkata: “Menurutmu, kehidupan itu seperti apa? Apakah kehidupan menurutmu adalah harta benda, anak keturunan dan yang serupa dengan hal itu, yang berupa kenikmatan, wanita dan anak-anak?” Dia kembali berpaling dariku sambil berkata: “Sayang sekali jika mencari kehidupan yang malah mengakibatkan kesedihan, penyesalan dan kerugian.” Aku berkata kepadanya: “Jika menurutmu, bagaimanakah kehidupan itu?” Dia menjawab: “Yang dimaksud dengan kehidupan menurutku adalah mengikrarkan tentang ketauhidan Allah Swt, berdiri untuk menghadap Allah Swt, tunduk dihadapan-Nya dan menikmati nikmatnya bermunajat kepada-Nya. Dengan itulah karunia Allah dan kebiasaan baik berdesak-desakan untuk datang kepadamu.”

Kemudian aku bertanya kepadanya: “Coba beritahukan kepadaku, bagaimana orang yang benar-benar jujur mencintai Allah? Dan kapan orang seperti itu rindu untuk bertemu dengan-Nya?” Pemuda itu menjawab: “Orang yang benar-benar mencintai Allah dengan sebenar-benarnya ialah jika Dia telah mencabut rasa cinta kepada dunia dari hatinya dan mempertahankan kekekalan Allah di antara semua makhluk-Nya. Pada waktu itulah dia akan merasa rindu untuk bertemu dangan Allah.” Aku berkata: “Coba kabarkan kepadaku, bagaimana puncak kezuhudan seseorang terhadap dunia?” Dia menjawab: “Dia meninggalkan hal-hal yang halal (yang berlebihan) sehingga tidak terjerumus pada sesuatu yang haram.”

Aku berkata: “Coba kabarkan kepadaku, bagaimana sebenarnya yang dimaksud dengan puncak ridha kepada Allah Swt?” Dia menjawab: “Apabila kamu ridha terhadap segala sesuatu yang telah ditakdirkan dan ditetapkan oleh Allah Swt. Kamu juga rela terhadap apa yang dia putuskan dan semua yang telah lalu. Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Memberi keutamaan kepada orang-orang yang bertakwa dan merendahkan orang-orang yang Dia kehendaki.” Aku berkata: “Kabarkan kepadaku, tentang puncak ibadah?” Dia menjawab: “Kamu menjadikan berbagai macam kesedihan hanya menjadi satu macam kesedihan saja. Sampai akhirnya tidak ada bedanya bagimu antara ketika kamu makmur dan ketika kamu kekurangan. Dengan demikian kamu akan merasa takut kepada Allah Swt seakan-akan kamu benar-benar menyaksikan-Nya. Jika kamu tidak seperti melihat-Nya, maka seakan-akan Dia mengawasimu.”

Aku berkata kepadanya: “Bagaimana caranya agar bisa selamat dari bermusuhan dengan manusia?” Dia menjawab: “Sebenarnya umat manusia itu adalah dua orang yang satu berakal dan satunya bodoh. Orang yang berakal sehat sibuk mengurusi aib dirinya sendiri. Dia berdiri untuk mengerjakan shalat tahajjud menghadap Tuhannya. Orang itu tidak melihat aib orang lain. Sedangkan orang bodoh sama sekali tidak memperdulikan bagaimana keadaan dan kondisi dirinya. Oleh karena itulah kamu harus merasa seperti berada di padang sahara dan seperti makan makanan tanpa lauk serta berserah diri kepada Dzat Yang Maha Esa.” Aku berkata: “Jika demikian, dari mana kita mendapatkan bahan makanan?” Dia menjawab: “Kamu bisa lari kepada Allah, sebab ia telah membuka pintu   tawakal untuk mu. Karena Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang.” Kemudian pemuda itu berjabat tangan denganku, meninggalkan dan mendo’akan aku. Aku tidak pernah melihat seseorang yang hatinya lebih bercahaya dibanding dengannya.

            Wahai hamba-hamba Allah, kasihanilah diri kalian sebelum azab dan siksaan tiba. Sesungguhnya kuburan itu tidak mengasihani orang yang tidak memiliki perbuatan baik, tidak berbelas kasihan kepada orang yang terkecoh dan suka berangan-angan. Bahkan kuburan juga tidak bersimpati pada orang yang menyiakan-nyiakan hari-harinya.  

 

Semoga bermanfaat…

With Love

Dhira Majid

 

Sumber: Ibnu Jauzi, Bustan al-Wa’idzin wa Riyadh al-Sami’in, Ter. Wawan Djunaedi Soffandi, S. Ag, (Cendekia Sentra Muslim: Jakarta, 2004), hlm. 374-376.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MUSLIM MUST HAVE A TRIP

Siapa sih yang tidak suka travelling alias jalan-jalan. Kebanyakan orang suka travelling bahkan sudah menjadi sebuah gaya hidup yang sedang ...