Menjadi seorang wanita tidaklah mudah. Kita kerap akan dinilai negatif jika terlalu banyak memberi aksi dibanding laki-laki. Sekedar menentukan pilihan dan keinginan saja bisa jadi bertentangan dengan adat dan budaya. Sesukses apa pun dan sudah memberi manfaat sebesar apa pun untuk banyak orang tetap ada cibiran dimana-mana. Pekerja wanita juga dianggap tidak layak di masyarakat, kerap ada pernyataan “Wanita tidak boleh lebih tinggi di atas laki-laki!”.
Sebagaimana perkataan Mbak Najwa Shihab “Kesuksesan dianggap positif bagi laki-laki, namun dianggap negatif bagi perempuan.” Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa kodrat wanita hanya sekedar mengerjakan pekerjaan domestik. Itu sebabnya wanita susah untuk mengekspresikan dirinya, mengembangkan segala potensi yang ia miliki, tidak percaya diri akan kemampuannya sendiri, takut bersuara karena tidak di dengar dan akhirnya mengubur harapan dan impiannya sedalam-dalamnya.
Seiring berjalannya waktu, banyak wanita yang sudah mulai berani bersuara dan membantu wanita lainnya yang terjebak dalam lingkaran kegelisahan, ketakutan akan sigma-sigma negatif dari masyarakat. Namun, tidak sedikit pula wanita yang masih terjebak dalam lingkaran pemahaman adat masyarakat, tidak mau repot-repot untuk mengembangkan diri, pasrah mengikuti standar kehidupan yang sudah ditetapkan oleh masyarakat bahwa wanita cukup menjadi seorang yang pasif. Wanita memutuskan untuk bersekolah di jenjang perkuliahan saja masih dianggap tidak pantas, seakan pendidikan adalah suatu hal yang sia-sia, karena pada akhirnya wanita akan mengurusi pekerjaan domestik yaitu mengurusi segala pekerjaan rumah. Padahal dalam lubuk yang paling dalam ada sebongkah berlian yang apabila diasah akan membawa perubahan yang besar.
Wanita sekilas memang identik tidak lebih kuat dari laki-laki Allah Swt. mengangkat derajat laki-laki lebih tinggi dibandingkan wanita karena besarnya amanah yang diemban laki-laki, dan laki-laki menjadi pelindung para wanita. Kelemahan di sini bukan berarti seorang muslimah tidak bisa melakukan apa pun yang dilakukan laki-laki. Bahkan sebaliknya, wanita harus lebih memiliki mental dan tubuh yang kuat untuk melakukan banyak hal. Jadi, tidak ada salahnya kalau seorang wanita belajar apa pun yang biasa dilakukan laki-laki seperti ketahanan diri untuk melindungi dirinya sendiri dari hal-hal yang merugikan dirinya. Berani bersuara saat mengalami kasus pelecehan seksual, dll sehingga tidak ada lagi yang mempersalahkan wanita dan diciut nyalinya.
Allah Swt juga memberi kita potensi untuk lebih bisa melakukan segala hal. Kita juga dianugerahi akal untuk meningkatkan kembali potensi. Pada kenyataan wanita lebih bisa bertahan dengan segala pekerjaan dan tantangan dibandingkan laki-laki. Kita hanya butuh kepercayaan diri lebih dengan potensi diri, lebih berani untuk mengupayakan segala kemampuan, menghilangkan stigma-stigma masyarakat yang menganggap wanita tidak perlu berkarya, berani menyuarakan suara demi kebaikan bersama, berani belajar lebih giat lagi, berani mempertahankan mimpi-mimpi kita, berani melakukan hal-hal yang dapat membawa kemaslahatan untuk dirinya sendiri maupun orang sekitar, berani memberikan kontribusi melalui segala bidang dan cara. Jangan mau menjadi wanita yang diakui karena kecantikan luar semata, justru lebih bangga jika menjadi wanita yang diakui karena kecerdasan, budi pekerti serta manfaat dan kontribusi yang dipersembahkan pada orang-orang sekitar. Wanita lahir bukan untuk menyaingi laki-laki, kita hidup dengan kodrat kita masing-masing, menjadi ibu, mertua, anak dan lainnya. Di samping berbagai peran tersebut, kita juga bisa berkarya dan belajar segala hal untuk meningkatkan kualitas diri.
“Because beside great men there are a great women”
Di samping laki-laki hebat sudah pasti ada wanita hebat yang mendukungnya, memberikan segala bentuk apresiasi kepadanya.
Pada kenyataannya menjadi wanita yang hebat memang tidak mudah bagi kita pemula yang masih mencoba untuk berusaha meningkatkan kualitas diri, jangankan memberi kontribusi untuk orang sekitar, bertanya dan berbicara di depan umum saja kita masih merasa takut untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Tidak percaya diri, meragukan diri sendiri dan merasa hal yang dipertanyakan tidak penting sama sekali, padahal masih dalam sebuah forum kecil. Kita sering bertanya pada diri sendiri “Apakah pertanyaan yang saya ajukan ini pantas untuk didengar orang?” “Ah, lebih baik diam saja deh, kayaknya pendapatku ini memang tidak diterima”, dan masih banyak pikiran-pikiran negatif yang terus menghantui kita untuk memulai memberikan pendapat kita sendiri.
Mari melihat wanita-wanita hebat yang bisa menjadi inspiratif bagi kita untuk lebih baik lagi, seperti kita Cut Nyak Dhien, pejuang asal Aceh yang begitu berani dalam mempertahankan kejayaan Aceh dari jajahan kaphe Belanda. Di Era sekarang seperti Najwa Shihab yang berani bersuara untuk kepentingan masyarakat.
Begitu juga pada masa Rasulullah Saw, perempuan-perempuan Madinah dikenal dengan perempuan yang berani dan tangguh dibandingkan perempuan lainnya. Apalagi dalam perkara menuntut ilmu mereka tidak segan-segan untuk bertanya di hadapan ribuan jamaah laki-laki tentang suatu permasalahan kepada Nabi Saw. Seperti Sayyidah Asma binti Yazid bin Al-Sakan Al-Anshari Ra., seorang perempuan Madinah yang pemberani, kritis dan juru bicara yang berani bertanya langsung kepada Rasulullah Saw di hadapan para lelaki kaum Ansar, serta menjadi teladan bagi wanita lainnya pada masa tersebut sampai ini.
Tidak hanya itu, Asma binti Yazid bin Al-Sakan Al-Anshari pernah langsung mendatangi Rasulullah Saw. untuk bertanya tentang permasalahan tata cara bersuci dari haid, beliau tidak malu bertanya tentang hal yang perlu dipertanyakan. Jika pada saat itu semua kaum wanita malu untuk bertanya tentang suatu permasalahan yang sangat penting untuk dipertanyakan, tentu kita tidak akan tahu bagaimana tata cara bersuci dari haid.
Ummu Salamah Ra. tentu kita tidak asing lagi dengan wanita yang satu ini, para sahabat banyak meriwayatkan hadis dari beliau, wanita yang sangat pemberani yang menuntut hak perempuan karena Al-Quran tidak menyebut “para perempuan”. Pada saat itu Ummu Salamah langsung bertanya kepada Rasulullah Saw:
“Wahai Rasulullah, aku tidak mendengar Allah Swt. memuji tentang hijrahnya perempuan?”
Kemudian Allah Swt. menurunkan ayat dalam Al-Quran:
“Bahwa sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan siapa yang berbuat baik di antara kalian, baik laki-laki maupun perempuan.” (QS. An-Nahl: 97)
Asma binti Abi Bakar Ra., putri seorang sahabat terdekat Rasulullah Saw. pernah melakukan hal yang sangat berisiko bagi dirinya dan Agama Islam. Ketika Rasulullah Saw dan Abi Bakar Ra. bersembunyi dari kaum kafir Quraisy di Gua Hira, Asma binti Abi Bakar berperan mengirim makanan kepada Rasulullah Saw dan Abi Bakar Ra. di dalam gua. Jarak yang sangat jauh bukanlah hal yang mudah bagi seorang wanita seusianya, ditambah risiko yang akan dihadapi jika ketahuan oleh kaum kafir Quraisy. Ketakutannya dikalahkan oleh besarnya keimanan dan keyakinan bahwa apa yang dilakukan sangat bermanfaat bagi umat dan masa depan agamanya. Pada saat itu Sayidah Asma Ra membawa makanan selama Rasulullah Saw dan ayahnya di sana. Namun, ia tidak memiliki pengikat makanan yang harus diikatkan. Akhirnya dengan penuh inisiatif ia robek tali pinggangnya menjadi dua bagian, satu dikatakan di pinggangnya dan yang satunya lagi diikatkan ke makanan yang dibawanya.
Begitulah figur seorang wanita yang angguh dan pemberani dalam mengambil sikap, ia tidak segan-segan mengorbankan semua yang dimilikinya untuk menolong agama Allah Swt. Tidak lemah dan tidak pasrah dengan keadaan. Masa muda yang identik dengan hura-hura dan membuang waktu sia-sia. Namun, para wanita di zaman Rasulullah seperti Asma binti Abi Bakar mengorbankan seluruh yang dimilikinya untuk menolong agama Allah Swt.
Bagaimana para wanita itu bisa menjadi wanita luar biasa? Karena satu hal yaitu memulai untuk berubah dari hal-hal kecil, berani untuk mengubah pola pikir yang tidak membangun, berani memupuk mental lebih kuat lagi dengan cara menghadapi rasa takut. Ya rasa takut, kunci utama dalam menepis segala keraguan dalam diri. Kita bisa memulai untuk belajar demi sedikit bagaimana menghilangkan rasa takut dalam diri sendiri dan menjadi pribadi yang lebih berani lagi dalam melakukan kebaikan.
Kita bisa lebih banyak belajar dan mengambil ibrah dari wanita-wanita inspiratif untuk lebih menjadi pribadi yang berani, karena awal dalam mengejar mimpi butuh keberanian, mental yang kuat dan mampu memahami kekurangan diri, mengubah sedikit demi sedikit untuk lebih baik lagi. Menjadi pribadi yang lebih berani perlu mengerti tentang tujuan dan manfaat apa yang akan didapatkan. Apakah bermanfaat atau tidak? Bagaimana jika kita tidak mau memulai mengubah hal-hal kecil, tentu kita tidak akan sampai ke hal-hal yang besar. Yuk berani untuk lebih baik lagi!.
Ada beberapa hal yang perlu kita ubah dalam diri untuk memulai menjadi pribadi yang lebih baik lagi agar bisa mengembangkan segala potensi yang kita miliki:
• Berani berekspresi
Kalau lagi sedih, marah, bahagia, mudahkah kita mengekspresikannya? Kebanyakan dari kita sebagai seorang wanita sangat sulit mengekspresikan apa yang sedang dirasakan. Saat marah atau sedih kita lebih memilih untuk memendam apa yang dirasakan dari pada mengekspresikannya langsung, mungkin karena takut menyinggung perasaan orang lain dan takut kalau yang kita lakukan sulit diterima oleh lingkungan. But, memendam perasaan marah dan kesal terhadap suatu hal juga bukan hal yang baik lo! Bahkan bisa membuat kita depresi.
Sebagai seorang wanita yang cenderung lebih menggunakan perasaan dari pada logika, kita sering memendam apa yang dirasakan dan berharap orang lain paham apa yang kita rasakan. Ingin sesuatu bukannya mengatakannya langsung tapi malah berharap lawan bicara kita paham apa yang kita inginkan, atau nama lainnya “main kode-kodean”. Yah, gimana mau paham kalau bilangnya cuma di hati. Tapi begitulah fitrah/kodrat kita sebagai seorang wanita. Berharap untuk dimengerti.
Coba mulai sekarang kita latihan untuk mengutarakan hal-hal kecil, berani mengungkapkan apa yang kita inginkan dan rasakan. Misalnya, ada seseorang yang membuat kita marah atau sedih, ungkapkan dengan baik-baik, “Aku tidak suka kamu berkata seperti itu, lain kali jangan bicara seperti itu lagi ya”. Atau jika ada yang mengkritik suatu hal yang kita senangi “Jangan baca buku terus, kayak kutu buku nanti”, kita mungkin bisa menjawab “Ya, tapi saya suka soalnya banyak hal-hal menarik di sini!”. Atau ketika ditawarkan pilihan makanan yang ingin kita makan, coba pilih makanan yang memang kita suka, bukan malah bilang “terserah”. Its not an option, ladies!.
Memang kata “terserah” yang diucapkan karena merasa tidak enak kepada orang lain, jadi apa pun makanannya boleh-boleh saja. Tapi, kalau makanannya tidak sesuai dengan yang kita mau akhirnya bikin bad mood kan? Nah, lebih baik mana? Langsung kita pilih sendiri atau orang lain yang pilihkan karena merasa tidak enakan? Ya, tentu pilihan sendiri dong! Atau misalnya tanyakan pada diri sendiri kegiatan apa yang saya sukai? Buku jenis apa yang saya sukai? Melatih diri terus-menerus untuk mengutarakan apa yang kita inginkan dan rasakan manfaatnya untuk meningkatkan keberanian kita sedikit demi sedikit, and makes you grow up.
• Melakukan apa yang disukai dan tidak takut mengambil risiko.
Berada di zona nyaman memang menyenangkan. Tidak perlu lagi capek-capek memikirkan ini dan itu. Tapi bakalan membuat kita sulit di masa yang akan datang. Sudah terbiasa tidak mau repot-repot menerima tantangan baru, takut mengambil risiko. Jadi ketika ada sedikit tantangan atau masalah yang datang di hidup kita, kita bakalan kesulitan dalam memecahkan atau keluar dari masalah tersebut. Dan itu gak bakalan buat kita grow up.
Apa pun yang kita lakukan tentu ada risikonya, apalagi melakukan suatu hal yang besar tentu risikonya juga lebih besar. Maka dari itu mau sampai kapan kita terus-terusan diam di zona nyaman?
“Ketika kita berani melangkah untuk membuat suatu perubahan, kita mengambil risiko bahwa bisa jadi kita gagal. Tetapi, satu-satunya cara untuk menjadi lebih baik adalah dengan mencoba.” -Joyce Meyer-
Nah, apa yang Anda pahami dari kata-kata Joyce Meyer? Kalau kita tidak mau melakukan sesuatu karena takut gagal, ya lebih (sayang/disayangkan) lagi kalau tidak mau mencoba. Setidaknya walaupun gagal kita banyak mendapatkan hal baru dan pelajaran yang belum kita didapatkan sebelumnya.
Saya juga pernah dengar nasehat dari mbak Najwa Shihab: “Anak muda itu harus banyak mencoba hal baru, harus banyak gagalnya, harus berani ambil resiko, karena kalau sudah tua tinggal menikmati kesuksesan dari beribu kegagalan”. So, tidak masalah karena salah dalam mengambil tindakan. Coba lagi! semakin banyak mencoba semakin tahu mana yang benar-benar cocok buat kita, dan kita jadi banyak pengalaman baru yang belum tentu didapatkan oleh orang lain yang tidak mau mencoba.
• Menerima kritikan dan saran dengan pikiran yang terbuka.
Salah satu hal yang membuat kita tidak berani memulai hal baru yang lebih baik disebabkan karena takut apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan ekspektasi orang lain, belum ngelakuin aja udah overthinking duluan “Gimana ya kalau dinilainya begini dan begitu?” Karena pikiran-pikiran inilah yang membuat kita sepintas lebih baik menghindari suatu hal karena takut dengan penilaian orang lain.
Bahkan terkadang ketika ditawarkan saran, rasanya hati ini berat untuk mempertimbangkannya. Merasa yang sudah kita lakukan full top the best one hundred percent, tidak mau dikoreksi kembali yang padahal itu demi kebaikan kita juga. Biasanya ini dirasakan oleh jiwa-jiwa perfeksionis. Jangankan di kritik, diberi saran saja sulit untuk diterima.
Nah, mulai saat ini coba lakuin dulu apa yang kamu inginkan, berani dengarkan kritikan dan saran, baik kritikannya bersifat membangun ataupun tidak, lebih baik terima saja dulu. Pahami kalau hidup di dunia ini sejatinya tidak bisa buat semua orang suka dan setuju dengan apa yang kita lakukan. Setelah itu menyaring mana saran yang terbaik dan kritikan yang membangun pribadi. Kalau ada kritikan yang tidak baik, cukup terima saja dan hadapi kritikan itu dengan pikiran yang terbuka. Tapi, jangan dimasukkan ke hati ya! Fokus saja ke hal-hal yang membangun, katakan pada diri sendiri “Apa yang aku lakukan adalah hal baik, dan tidak merugikan orang lain” just let your dream go, jalani saja terus, masih banyak kok yang mendukung.
• Meningkatkan rasa percaya diri
Meningkatkan kepercayaan pada diri sendiri. Percaya kalau kita bisa. Percaya kalau yang kita lakukan tidak merugikan diri kita sendiri dan orang lain. Percaya bahwa yang kita lakukan akan berdampak untuk kemajuan diri kita sendiri, percaya kalau kita bisa dan kuat. Untuk trik dan tip meningkatkan kepercayaan diri dari para ahli akan di bahas pada bab selanjutnya.
• Berpikir positif
Sebenarnya rasa takut muncul karena pikiran-pikiran negatif yang kita ciptakan sendiri. Baru mau mulai udah duluan mikir “nanti kata orang gimana ya?, padahal sebenarnya itu Cuma ada pikiran kita saja.
Pikiran orang lain bukan dalam kendali kita, kita cuma bisa mengendalikan pikiran kita sendiri biar tidak memikirkan yang membuat nyali ciut. Alhasil karena terus memikirkan hal-hal yang negatif membuat kita tidak berani memberikan pendapat, mengutarakan apa yang kita inginkan.
• Berteman dengan lingkungan yang mempunyai pikiran yang terbuka
Menyeleksi lingkungan yang benar dan baik itu (perlu banget/sangat penting). Tidak semua circle pertemanan harus ada kamu di situ. Lingkungan yang baik pasti bisa membawa kita ke hal-hal yang baik juga, begitu juga sebaliknya. Dengan memilih lingkungan yang baik dan berteman dengan orang-orang yang luas, sudut pandangnya membuat kita lebih luas juga cara berpikir. Berteman dengan orang-orang yang percaya diri dan berani akan mempengaruhi kita lebih percaya diri juga. So, tentukan lingkunganmu dan dengan siapa kamu berteman!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar