Sabtu, 02 Juli 2022

RAMADAN PERTAMA DI MESIR

Tidak terasa bulan ramadan kembali hadir, bulan paling istimewa bagi umat muslim diseluruh dunia. Kali ini pengalaman saya tentu berbeda, merasakan ramadan pertama kalinya di negeri para anbiya, negeri para Nabi, yaitu Mesir. Mesir merupakan salah satu negara tertua di dunia yang menyimpan banyak sejarah dan keunikan. Sebelum ramadan tiba, masyarakat Mesir menyambut bulan ramadan dengan penuh kemeriahan. Masyarakat Mesir menghiasi gang-gang, pertokoan, dan rumah dengan pernak–pernik, dan lentera yang disebut dengan tradisi Fanous. Tradisi Fanous merupakan salah satu ciri khas ramadhan di Mesir yang tidak hanya sebagai hiasan belaka, namun juga sebagai salah satu simbol kebahagiaan menyambut bulan suci Ramadan. Melihat keindahan Fanous yang digantungkan disetiap tempat, membuat saya begitu bahagia dan ikut merasakan tradisi masyarakat Mesir dalam menyambut bulan ramadan yang mulia ini. Masyarakat Mesir juga memeriahkan jalanan, pasar, dan mesjid-mesjid ketika ramadan tiba, bercengkrama dengan keluarga dan teman-teman, mengucapkan ucapan selamat ramadan, memberikan hadiah seperti gantungan kunci, Al-Quran, makanan, dan hadiah-hadiah lainnya.

Ramadan di Mesir menjadi sebuah tantangan baru bagi diri saya. Biasanya di Indonesia kita hanya berpuasa 14 jam sehari dengan cuaca yang stabil. Tapi, di Mesir saya ditantang untuk berpuasa kurang lebih 16-18 jam perhari, dengan suhu panas diatas 40 derajat. Saya yang baru beradaptasi dengan musim panas di Mesir harus bisa melatih diri, tidak hanya melatih diri dari segi lapar dan dahaga, namun harus bisa melatih diri untuk bersabar menghadapi cuaca panas yang sangat ekstrim. Belum lagi kesabaran diuji saat diluar rumah, seperti menunggu Tremco (salah satu nama mini bus di Mesir) yang bahkan memakan waktu 5-10 menit atau lebih, berdesakan di dalam bus sambil menikmati hawa panas yang menusuk selama 15-30 menit perjalanan ke Darasah yaitu salah satu tempat favorit bagi para pelajar, karena disana pusatnya belajar agama dan tempat berdirinya mesjid Al-Azhar Syarief.  Selama dalam perjalanan menuju Darasah, kesabaran diuji lagi dengan penumpang yang penuh dan berdesakan, ditambah cuaca panas yang sangat membara, ditambah dengan balapan supir Tremco yang membuat senam jantung. Namun, penumpang tetap konsisten membaca Alquran dan berzikir, lantunan ayat suci Al-Quran yang terdengar disepanjang perjalanan, menjadi penghibur dari ujian ini.

Sesampainya di Darasah, saya melihat beberapa toko kecil yang menjual berbagai aneka jus yang dikemas dalam botol berukuran sedang. Biasanya jus hanya dikemas dalam botol biasa, namun berbeda saat bulan ramadan, minuman jus dikemas khusus dalam botol aqua. Minuman ini menjadi salah satu minuman penyegar saat berbuka puasa.  


Keunikan lain dari Mesir saat ramadan yaitu menyajikan makanan kepada orang yang berpuasa. Disepanjang jalan akan kita temui meja dan kursi panjang yang telah dihidangkan makanan dan minuman berbuka puasa, masyarakat Mesir menyebutnya maidaturrahman atau hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengasih. Semua muslim dari berbagai latar belakang yang berbeda berkumpul disatu meja makan yang dihiasi dengan lentera cantik, menikmati hidangan yang telah disediakan sambil diringi dengan canda dan tawa. Maidaturramah salah satu tradisi Mesir untuk menguatkan ikatan tali persaudaraan antar muslim diseluruh penjuru dunia.


Setelah berbuka puasa saya menuju ke mesjid Al-Azhar, mesjid yang sangat bersejarah bagi umat muslim di seluruh dunia. Ramai pengunjung datang untuk melaksanakan shalat insya dan terawih bersama. Ruwaq atau tiang Al-Azhar dipenuhi dengan para jamaah yang sedang membaca Alquran, berzikir, dan melaksanakan shalat sunnah sambil menunggu azan insya berkumandang. Ada juga yang sedang bercengkrama, mengabadikan momen dengan foto bersama. Saya yang baru pertama kalinya merasakan shalat tarawih di Al-Azhar merasakan keindahan yang sangat luar biasa karena Imam membacakan Alquran sesuai dengan hari ramadannya, jika ramadan pertama maka Imam akan membaca juz pertama, dan begitu seterusnya. Ditambah dengan qiraat yang berbeda-beda. Di Mesir umumnya shalat tarawih dilaksanakan hanya delapan rakaat ditambah dengan 3 rakaat witir, berbeda dengan Indonesia yang umumnya dua puluh tiga rakaat, namun jumlah rakaat bukan menjadi salah satu hal yang perlu diperselisihkan yang terpenting keikhlasan dalam menjalankannya. Setelah melaksanakan shalat tarawih masyarakat kembali menjalankan aktifitasnya masing-masing.

Saat tiba waktu sahur masyarakat Mesir membangunkan warga dengan cara memukul suatu benda atau membunyikan sesuatu. Saya yang masih beradaptasi dengan musim panas yang waktu malamnya lebih singkat masih susah untuk bangun sahur karena jam setengah empat di Mesir sudah Imsak. Matahari di Mesir saat musim panas terbit di jam lima pagi, tentu sangat berbeda dengan waktu di Indonesia. Setelah subuh biasanya saya belum melakukan kegiatan diluar rumah karena pada umumnya masyarakat mesir melakukan kegiatan saat tiba waktu zuhur.

Keunikan ramadan di Mesir tidak hanya sekedar keunikan belaka, namun memiliki nilai-nilai yang sangat mendalam yang terkandung disetiap keunikannya. Inilah pengalaman pertama kali saya merasakan indahnya ramadan di Negeri Anbiya, Mesir dengan keunikan yang begitu luar biasa. 

SEMOGA BERMANFAAT.

WASALAM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MUSLIM MUST HAVE A TRIP

Siapa sih yang tidak suka travelling alias jalan-jalan. Kebanyakan orang suka travelling bahkan sudah menjadi sebuah gaya hidup yang sedang ...