Tidak terasa bulan ramadan kembali hadir, bulan paling
istimewa bagi umat muslim diseluruh dunia. Kali ini pengalaman saya tentu berbeda,
merasakan ramadan pertama kalinya di negeri para anbiya, negeri para
Nabi, yaitu Mesir. Mesir merupakan salah satu negara tertua di dunia yang
menyimpan banyak sejarah dan keunikan. Sebelum ramadan tiba, masyarakat Mesir
menyambut bulan ramadan dengan penuh kemeriahan. Masyarakat Mesir menghiasi
gang-gang, pertokoan, dan rumah dengan pernak–pernik, dan lentera yang disebut
dengan tradisi Fanous. Tradisi Fanous merupakan salah satu ciri khas ramadhan di Mesir yang tidak hanya sebagai
hiasan belaka, namun juga sebagai salah satu simbol kebahagiaan menyambut bulan
suci Ramadan. Melihat keindahan Fanous yang digantungkan disetiap tempat, membuat saya begitu bahagia dan
ikut merasakan tradisi masyarakat Mesir
dalam menyambut bulan ramadan yang mulia ini. Masyarakat Mesir juga memeriahkan
jalanan, pasar, dan mesjid-mesjid ketika ramadan tiba, bercengkrama dengan
keluarga dan teman-teman,
mengucapkan ucapan selamat ramadan, memberikan hadiah seperti gantungan kunci,
Al-Quran, makanan, dan hadiah-hadiah
lainnya.
Ramadan di Mesir menjadi sebuah tantangan baru bagi
diri saya. Biasanya di Indonesia kita hanya berpuasa 14 jam sehari dengan cuaca
yang stabil. Tapi, di Mesir saya ditantang untuk berpuasa kurang lebih 16-18
jam perhari, dengan suhu panas diatas 40 derajat. Saya yang baru beradaptasi
dengan musim panas di Mesir harus bisa melatih diri, tidak hanya melatih diri
dari segi lapar dan dahaga, namun harus bisa melatih diri untuk bersabar
menghadapi cuaca panas yang sangat ekstrim. Belum lagi kesabaran diuji saat diluar rumah, seperti
menunggu Tremco
(salah satu nama mini
bus di Mesir) yang bahkan memakan waktu 5-10 menit atau lebih, berdesakan di dalam bus sambil menikmati hawa
panas yang menusuk selama 15-30 menit perjalanan ke Darasah yaitu salah satu
tempat favorit bagi para pelajar, karena disana pusatnya belajar agama dan tempat berdirinya mesjid Al-Azhar Syarief. Selama dalam perjalanan menuju Darasah,
kesabaran diuji lagi dengan penumpang yang penuh dan berdesakan, ditambah cuaca
panas yang sangat membara, ditambah dengan balapan supir Tremco yang membuat
senam jantung. Namun, penumpang tetap konsisten membaca Alquran dan berzikir, lantunan
ayat suci Al-Quran yang terdengar disepanjang perjalanan, menjadi penghibur
dari ujian ini.
Sesampainya di Darasah, saya melihat beberapa toko kecil
yang menjual berbagai aneka jus yang dikemas dalam botol berukuran sedang. Biasanya
jus hanya dikemas dalam botol biasa, namun berbeda saat bulan ramadan, minuman
jus dikemas khusus dalam botol aqua. Minuman ini menjadi salah satu minuman
penyegar saat berbuka puasa.
Keunikan lain dari Mesir saat ramadan yaitu menyajikan
makanan kepada orang yang berpuasa. Disepanjang jalan akan kita temui meja dan
kursi panjang yang telah dihidangkan makanan dan minuman berbuka puasa, masyarakat
Mesir menyebutnya maidaturrahman atau hidangan dari Tuhan Yang Maha
Pengasih. Semua muslim dari berbagai latar belakang yang berbeda berkumpul
disatu meja makan yang dihiasi dengan lentera cantik, menikmati hidangan yang
telah disediakan sambil diringi dengan canda dan tawa. Maidaturramah salah
satu tradisi Mesir untuk menguatkan ikatan tali persaudaraan antar muslim
diseluruh penjuru dunia.
Setelah berbuka puasa saya menuju ke mesjid Al-Azhar,
mesjid yang sangat bersejarah bagi umat muslim di seluruh dunia. Ramai
pengunjung datang untuk melaksanakan shalat insya dan terawih bersama. Ruwaq
atau tiang Al-Azhar dipenuhi dengan para jamaah yang sedang membaca Alquran,
berzikir, dan melaksanakan shalat sunnah sambil menunggu azan insya
berkumandang. Ada juga yang sedang bercengkrama, mengabadikan momen dengan foto
bersama. Saya yang baru pertama kalinya merasakan shalat tarawih di
Al-Azhar merasakan keindahan yang sangat luar biasa karena Imam membacakan Alquran
sesuai dengan hari ramadannya, jika ramadan pertama maka Imam akan membaca juz
pertama, dan begitu seterusnya. Ditambah dengan qiraat yang
berbeda-beda. Di Mesir umumnya shalat tarawih dilaksanakan hanya delapan
rakaat ditambah dengan 3 rakaat witir, berbeda dengan Indonesia
yang umumnya dua puluh tiga rakaat, namun jumlah rakaat bukan menjadi
salah satu hal yang perlu diperselisihkan yang terpenting keikhlasan dalam
menjalankannya. Setelah melaksanakan shalat tarawih masyarakat kembali
menjalankan aktifitasnya masing-masing.
Saat tiba waktu sahur masyarakat Mesir membangunkan warga
dengan cara memukul suatu benda atau membunyikan sesuatu. Saya yang masih
beradaptasi dengan musim panas yang waktu malamnya lebih singkat masih susah
untuk bangun sahur karena jam setengah empat di Mesir sudah Imsak. Matahari di
Mesir saat musim panas terbit di jam lima pagi, tentu sangat berbeda dengan
waktu di Indonesia. Setelah subuh biasanya saya belum melakukan kegiatan diluar
rumah karena pada umumnya masyarakat mesir melakukan kegiatan saat tiba waktu
zuhur.
Keunikan ramadan
di Mesir tidak hanya sekedar keunikan belaka, namun memiliki nilai-nilai yang
sangat mendalam yang terkandung disetiap keunikannya. Inilah pengalaman pertama
kali saya merasakan indahnya ramadan di Negeri Anbiya, Mesir dengan
keunikan yang begitu luar biasa.
SEMOGA
BERMANFAAT.
WASALAM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar